Tingkatkan Profesionalisme, Satbrimob Polda Sumsel Batalyon B Pelopor Gelar Latihan Anti Anarkis

Table of Contents

LUBUKLINGGAU — Kemampuan menghadapi situasi unjuk rasa dan potensi gangguan keamanan terus menjadi perhatian Satbrimob Polda Sumatera Selatan Batalyon B Pelopor. Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui latihan Detasemen 45 Anti Anarkis yang digelar di Mako Batalyon B Pelopor, Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Petanang Ulu, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau, Senin (19/10/2026).

Latihan yang berlangsung usai apel pagi ini dipimpin Danton 4 Kompi 2 Batalyon B Pelopor, Ipda Riyanto, S.H. Sejumlah personel mengikuti kegiatan tersebut dengan mempraktikkan materi yang berkaitan dengan penanganan massa serta langkah-langkah menghadapi situasi yang berpotensi berkembang menjadi tindakan anarkis.

Dalam pelaksanaannya, latihan difokuskan pada pemahaman prosedur, ketepatan mengambil tindakan, dan koordinasi antarpersonel. Setiap tahapan menjadi perhatian agar anggota mampu menjalankan peran masing-masing secara disiplin, sekaligus menghindari tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan operasional.

Ipda Riyanto, S.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pemeliharaan kemampuan teknis personel. Menurutnya, latihan rutin diperlukan agar setiap anggota tetap memahami mekanisme bertindak dan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi saat menjalankan tugas.

Ia menegaskan, kesiapan personel tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh pemahaman terhadap prosedur dan koordinasi yang baik dalam setiap pelaksanaan tugas.

Sementara itu, Danyon B Pelopor Satbrimob Polda Sumsel, AKBP Andiyano, S.K.M., M.H., menyampaikan bahwa peningkatan kemampuan anggota harus diimbangi dengan pemahaman terhadap perkembangan metode dan ketentuan penanganan massa.

Menurutnya, materi latihan turut menyesuaikan pembaruan yang diberikan Korbrimob Polri. Hal ini menjadi bagian dari upaya memastikan pengetahuan personel tetap relevan dengan kebutuhan tugas, khususnya ketika menghadapi aksi unjuk rasa yang berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas.

“Personel harus memiliki pemahaman yang baik terhadap prosedur penanganan massa. Setiap tindakan di lapangan wajib dilaksanakan secara profesional, proporsional, dan terukur dengan tetap mengutamakan pendekatan humanis serta berpedoman pada SOP,” ujar AKBP Andiyano, S.K.M., M.H.

Ia juga menjelaskan bahwa proses transfer pengetahuan dilakukan dengan melibatkan anggota yang telah mengikuti pendidikan PKSSH (Penyelesaian Konflik Sosial Secara Humanis) di Pusdik Brimob Watukosek, Jawa Timur.

Pengalaman dan materi yang diperoleh dari pendidikan tersebut diteruskan kepada personel lain melalui latihan di satuan. Dengan demikian, pemahaman mengenai penanganan konflik secara humanis dapat diterapkan secara lebih merata dan menjadi pedoman bersama dalam pelaksanaan tugas.

Melalui kegiatan ini, Batalyon B Pelopor berupaya menjaga kualitas kemampuan personel agar selalu siap menghadapi berbagai tantangan tugas. Kesiapan teknis yang disertai kedisiplinan, koordinasi, dan pendekatan humanis diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas kepolisian dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.


          ( Nasrullah ) 
Tak-berjudul81-20250220065525