Semarak Sumpah Pemuda, 540 Siswa SMPN 1 Limboto Tampilkan Karnaval Pakaian Adat Nusantara
Table of Contents
LIMBOTO – Memeriahkan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026, SMP Negeri 1 Limboto, Kabupaten Gorontalo, menggelar Semarak Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda melalui berbagai perlombaan, yang mencapai puncaknya dengan karnaval pakaian adat daerah se-Nusantara, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang diikuti sebanyak 540 siswa dari 19 kelas atau regu tersebut berlangsung meriah. Para siswa tampil mengenakan beragam pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk pengenalan budaya sekaligus penanaman nilai persatuan dan kebinekaan di kalangan generasi muda.
Karnaval secara resmi dibuka oleh Kepala SMP Negeri 1 Limboto, Andriansyah Puluhulawa, M.Pd. Sementara itu, pelepasan bendera start dilakukan oleh Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan yang juga bertindak sebagai juri, Alan Ferdinand Ambo, S.T., M.Si.
Para peserta menempuh rute sekitar 1,5 kilometer, dimulai dari halaman SMP Negeri 1 Limboto menuju Rumah Adat Po Boide di Jalan Kolonel Rauf Mo'o, Kelurahan Kayubulan, kemudian kembali dan finis di halaman sekolah.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Kepala Sekolah Indriaty Aneta, S.Pd., Wakil Urusan Kesiswaan Guntur Djoyo Sumarto, S.Pd., serta dewan juri yang terdiri dari seniman daerah Wawan Koni, M.K.M., Delim U. Abas, S.Pd., dan Rahmat Mobilingo, S.Pd. Sejumlah guru dan staf tata usaha juga hadir menyukseskan kegiatan tersebut.
Kepala SMP Negeri 1 Limboto, Andriansyah Puluhulawa, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan atau ajang menampilkan pakaian adat, tetapi juga menjadi sarana membangun persatuan, solidaritas, dan empati antarsiswa.
Menurutnya, perbedaan suku, budaya, dan adat istiadat harus dipandang sebagai kekayaan bangsa yang mempersatukan, bukan menjadi alasan untuk membeda-bedakan sesama.
“Bagaimana meningkatkan persatuan dan kesatuan di antara murid, sehingga mereka memahami bahwa suku dan budaya yang berbeda bukan menjadi penghalang, tetapi justru mempersatukan mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat Sumpah Pemuda juga perlu diwujudkan melalui sikap saling menghargai dan menghindari perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Para siswa diharapkan menyadari bahwa mereka merupakan saudara sebangsa dan setanah air.
Selain itu, pihak sekolah terus memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, serta karakter kebangsaan untuk membentengi generasi muda dari pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia.
Pengenalan pakaian adat, norma sosial, dan tradisi daerah menjadi bagian dari upaya tersebut. Di sisi lain, siswa juga didorong memahami perkembangan digitalisasi agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif dalam menghadapi tantangan masa depan.
Andriansyah berharap semangat persatuan tidak hanya tumbuh saat peringatan Sumpah Pemuda, tetapi terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjaga persatuan adalah tugas kita bersama. Saya berharap seluruh guru dan siswa tetap menjaga persatuan, solidaritas, serta selalu berempati terhadap sesama teman,” tegasnya.
Dalam upaya melestarikan bahasa daerah, SMP Negeri 1 Limboto juga telah menjalankan program penggunaan bahasa Gorontalo atau Hulonthalo setiap hari Kamis, sesuai program Pemerintah Kabupaten Gorontalo di bawah kepemimpinan Bupati H. Sofyan Puhi, S.T.
Andriansyah menjelaskan, penggunaan bahasa Gorontalo diterapkan sejak pagi hingga siang hari dalam komunikasi di lingkungan sekolah. Bagi siswa yang belum fasih, sekolah mendorong mereka memulai dari kosakata sederhana yang dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar generasi muda tetap mengenal dan menggunakan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap warisan leluhur.
Sementara itu, Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan sekaligus juri, Alan Ferdinand Ambo, S.T., M.Si., mengapresiasi antusiasme para siswa dalam mengikuti karnaval pakaian adat Nusantara.
Ia menilai kegiatan tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kecintaan terhadap budaya Indonesia, sekaligus memahami posisi mereka sebagai bagian dari generasi penerus bangsa.
Menurut Alan, penilaian dalam karnaval tidak hanya berkaitan dengan pakaian adat yang dikenakan, tetapi juga kekompakan, kegembiraan, ekspresi, serta cara peserta menampilkan dan merepresentasikan budaya daerah masing-masing.
Ia menyebut keberagaman pakaian adat yang ditampilkan para siswa menjadi gambaran kekayaan budaya Indonesia yang patut dikenal dan dilestarikan.
Alan juga menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda merupakan fondasi penting bagi persatuan bangsa, dengan nilai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
“Tanpa Sumpah Pemuda, Indonesia seperti yang kita kenal saat ini tentu sulit terwujud. Kita patut berterima kasih kepada para tokoh dan pemuda yang telah melahirkan semangat persatuan tersebut,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Gorontalo, bahkan instansi lainnya, untuk ikut menyemarakkan peringatan Hari Sumpah Pemuda melalui kegiatan yang menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan kebudayaan Indonesia.
Melalui karnaval tersebut, SMP Negeri 1 Limboto berupaya menanamkan pesan bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan. Semangat Sumpah Pemuda diharapkan terus hidup dalam perilaku generasi muda, baik melalui pelestarian budaya, penggunaan bahasa daerah, maupun sikap saling menghormati di tengah perbedaan. (red/)

