Nama Dikaitkan dengan Hilangnya Echa, Sagita Panigoro Buka Suara: “Komentar Lama Dipelintir”
Table of Contents
BOALEMO, GORONTALO – Sagita Panigoro, teman Elsanti Ibrahim alias Echa, warga Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memberikan klarifikasi kepada media terkait sejumlah tudingan yang beredar di media sosial dan mengaitkan dirinya dengan kasus hilangnya Echa.
Keterangan tersebut disampaikan Sagita kepada media pada Kamis (1/10/2026). Ia membantah berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya dan meminta publik tidak mengambil kesimpulan berdasarkan potongan percakapan maupun informasi yang belum terverifikasi.
Sagita mengatakan dirinya telah memberikan keterangan kepada pihak kepolisian dan menyatakan tetap kooperatif dalam proses penyelidikan terkait keberadaan Echa.
"Saya sudah di-BAP dan keberangkatan saya ke Sorong ikut orang tua juga sudah konfirmasi dengan Kapolsek. Di Sorong, pihak kepolisian setempat juga sudah meminta keterangan untuk dugaan orang hilang tersebut. Saya juga masih aktif dalam berkomunikasi dengan pihak penyidik dan penyelidik," ujar Sagita.
Ia juga menanggapi tuduhan yang menurutnya muncul setelah adanya informasi dari seseorang yang melakukan ritual "undang roh" atau kesurupan. Sagita mengaku telah mengonfirmasi langsung persoalan tersebut kepada MA alias Melan.
Menurut Sagita, dirinya dituduh berkomplot memukul Echa hanya berdasarkan informasi yang berasal dari orang yang melakukan ritual tersebut dan kemudian masuk ke dalam tubuh istri kepala desa.
"Ini bukti saat saya mengonfirmasi langsung ke Melan. Sangat miris, ternyata Melan mengaku dia menuduh saya berkomplot memukul Eca hanya karena mendengar info dari orang yang melakukan ritual 'undang roh' yang masuk ke istri kepala desa," kata Sagita.
Ia menegaskan bahwa setiap tuduhan seharusnya didukung bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
"Saya sudah tegaskan ke dia, kalau bicara harus pakai bukti hukum, dan semua keterangan saya sudah saya laporkan dengan jujur ke polisi," ujarnya.
Sagita juga memberikan penjelasan mengenai beredarnya tangkapan layar komentar lama yang memuat kalimat mengenai "mencari target" dan "ikut lari". Menurutnya, percakapan tersebut telah dipotong dari konteks awal sehingga menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.
Ia menyebut komentar tersebut merupakan bentuk sarkasme atau sindiran yang ditulis ketika dirinya sedang emosi karena sebelumnya merasa dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
"Saya akui, dalam keadaan emosi karena difitnah atas hal yang tidak saya lakukan beberapa bulan lalu, saya sempat membalas dengan kalimat sindiran atau jokes sarkas yang tidak pas," kata Sagita.
Namun, ia menegaskan komentar tersebut dibuat jauh sebelum musibah yang dialami Echa dan tidak ditujukan kepada sahabatnya tersebut.
"Saya tegaskan, komentar itu ada jauh sebelum musibah Eca ini terjadi dan murni bentuk kekesalan saya pada akun yang menuduh saya waktu itu. Saya bukan dukun yang bisa tahu masa depan," tegasnya.
Sagita mengatakan dirinya memiliki percakapan dengan Melan yang menurutnya dapat menjelaskan konteks sebenarnya dari komentar tersebut. Ia berharap percakapan secara utuh dapat dilihat sehingga publik tidak hanya berpedoman pada tangkapan layar yang telah dipotong.
Selain itu, Sagita membantah narasi di media sosial yang menyebut dirinya melarikan diri setelah Echa dikabarkan hilang.
Ia menjelaskan keberangkatannya ke Sorong dilakukan bersama orang tua dan telah dikomunikasikan dengan pihak kepolisian. Menurutnya, keberadaannya di Sorong juga diketahui oleh kepolisian setempat.
"Di Sorong pun pihak kepolisian sudah memeriksa rumah saya dan terbukti Eca tidak ada dengan saya," ujarnya.
Sagita juga menunjukkan bukti percakapan dengan salah satu akun Facebook, Rahmatia Daud, yang menurutnya menyebarkan informasi bahwa dirinya melarikan diri di sebuah grup Facebook. Sagita menyebut dalam percakapan tersebut akun yang bersangkutan mengaku memperoleh informasi dari sepupu Echa, Melan.
Menurut Sagita, berbagai informasi yang beredar di media sosial telah berdampak langsung terhadap dirinya. Ia mengaku menerima sejumlah pesan bernada serangan dari warganet setelah namanya dikaitkan dengan kasus Echa.
"Ini juga beberapa foto bukti chat dari netizen yang saya terima saat ini. Foto-foto ini adalah dampak langsung yang harus saya rasakan akibat fitnah dari akun-akun yang sengaja menggiring opini publik di Facebook," katanya.
Ia berharap bukti percakapan dan tangkapan layar tersebut dapat dilihat secara objektif oleh publik karena menurutnya penyebaran tuduhan tanpa dasar dapat memberikan dampak serius terhadap seseorang.
"Jujur, serangan kata-kata dan teror massal seperti di foto ini sangat memukul serta memengaruhi kesehatan mental saya," ujarnya.
Sagita juga menyoroti sejumlah akun media sosial yang menurutnya menyebarkan atau mengolah kembali tangkapan layar komentar lamanya. Ia menilai potongan komentar tersebut telah dilepaskan dari konteks percakapan awal sehingga seolah-olah berkaitan langsung dengan peristiwa yang dialami Echa.
"Sangat miris melihat akun seperti Oma Opa MiniVlog dan beberapa akun lain yang sengaja memotong serta menggoreng tangkapan layar komentar lama saya tersebut. Mereka menggiring opini publik seolah-olah itu bukti kejahatan," katanya.
Namun, pernyataan mengenai motif maupun tujuan akun-akun tersebut merupakan penilaian dari Sagita. Ia berharap masyarakat tetap melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar dan tidak menjadikan konten media sosial sebagai dasar untuk menetapkan seseorang bersalah.
Sagita juga meminta publik menghormati proses identifikasi dan penyelidikan yang dilakukan pihak berwenang, termasuk apabila masih diperlukan pemeriksaan ilmiah untuk memastikan identitas seseorang yang berkaitan dengan perkara tersebut.
Menurutnya, aparat yang memiliki kewenangan masih melakukan proses sesuai prosedur dan belum menetapkan seseorang sebagai pelaku.
"Pihak Biddokkes Polda saja secara resmi menyatakan bahwa kepastian identitas jenazah tersebut masih harus menunggu hasil uji DNA resmi yang memakan waktu berminggu-minggu. Pihak berwajib yang memiliki wewenang saja masih bekerja secara ilmiah dan belum menetapkan siapa pun sebagai pelaku," ujarnya.
Sagita menegaskan bahwa selama proses tersebut dirinya memilih untuk tidak banyak memberikan tanggapan di media sosial. Ia mengaku lebih memilih fokus mendukung pencarian Echa dan menyerahkan proses hukum kepada aparat kepolisian.
"Ya betul, hal ini yang menjadi alasan selama ini saya lebih memilih untuk diam dan tidak menanggapi opini liar di media sosial. Fokus utama saya adalah mendukung proses pencarian teman saya Eca, sehingga saya tidak mau memperkeruh suasana dengan hal-hal lain yang tidak berdasar," katanya.
Sagita kembali menegaskan bahwa dirinya siap memberikan keterangan apabila dibutuhkan oleh penyidik dan akan tetap kooperatif dalam proses hukum.
Ia berharap klarifikasi tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih utuh kepada masyarakat mengenai berbagai informasi yang menyeret namanya dalam kasus Echa.
Adapun berbagai tudingan yang beredar di media sosial, menurutnya, sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang sebelum terdapat bukti dan keterangan resmi dari pihak yang berwenang.
Sagita menyatakan akan menyerahkan pengungkapan fakta mengenai kasus Echa kepada aparat penegak hukum dan tetap menghormati seluruh proses penyelidikan yang sedang berjalan.
"intinya itu komen pas 1 bln eca hilang.
trus sempat di angkat krna postingan basir sama melan" tutupnya. (red/)

