Saat Anak Sebayanya Sibuk dengan Gadget, Bocah 15 Tahun Ini Justru Menjaga Tradisi Dikili Gorontalo
Table of Contents
BOALEMO, GORONTALO — Ketika sebagian anak seusianya larut dalam gawai, gim dan hiburan digital, Anugerah Nasaru justru memilih menghabiskan malam dengan duduk bersila di masjid.
Usianya baru 15 tahun.
Namun, malam-malam panjang yang ia jalani bukan di depan layar ponsel, melainkan bersama para pendzikir senior, mengikuti lantunan dikili yang menjadi salah satu warisan keagamaan sekaligus kebudayaan masyarakat Gorontalo.
Anugerah Nasaru, yang akrab disapa Nugi, adalah siswa kelas IX MTs Negeri 1 Dulupi, warga Desa Tabongo, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.
Bagi Nugi, dikili bukan sekadar lantunan zikir yang terdengar semalam suntuk ketika masyarakat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dikili menjadi ruang belajar. Tempat ia mengenal agama, mendengar lantunan para pendzikir senior, sekaligus memahami warisan budaya yang telah hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di usia yang masih belia, Nugi sudah berani mengambil tempat di antara para pendzikir senior.
Keberanian itu tidak muncul dalam semalam.
Kecintaannya terhadap dikili tumbuh sejak ia masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar.
Saat itu, Nugi kerap mengikuti sang nenek dari pihak ibu menghadiri kegiatan dikili. Awalnya ia hanya datang dan mendengarkan.
Namun rasa penasaran membuatnya mulai merekam lantunan dikili yang berlangsung sepanjang malam.
Rekaman itu kemudian dibawanya pulang,
Diputar kembali,
Didengarkan, berulang-ulang.
Dari sana Nugi mulai mengenal lantunan, mengikuti irama, hingga perlahan mampu ikut melantunkannya. Sang nenek menjadi sosok penting yang membimbing sekaligus mengawasi proses belajarnya.
Kebiasaan itu terus tumbuh.
Nugi bahkan kerap menemani neneknya menghadiri arisan dikili. Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, kedekatannya dengan tradisi tersebut semakin kuat.
Yang semula hanya terdengar dari masjid saat Maulid, perlahan berubah menjadi bagian dari kehidupannya.
Kecintaan itu ternyata juga memiliki akar kuat dalam keluarganya.
Kakek Nugi, Opa Nunga Isa Rahman atau yang dikenal dengan sapaan Paci Nuru, pada masanya dikenal sebagai pendzikir sekaligus imam masjid di Kecamatan Tilamuta.
Sementara sang kakek buyut, Husin R. Hasan, juga diketahui merupakan seorang pendzikir.
Seolah ada mata rantai yang kembali tersambung melalui diri Nugi.
Tahun 2026 menjadi babak penting dalam perjalanan itu.
Untuk pertama kalinya, Nugi benar-benar memberanikan diri duduk dan ikut berdzikir bersama para pendzikir yang jauh lebih senior.
Tetapi ia tidak berhenti di satu masjid.
Dalam tahun pertamanya mengikuti dikili, Nugi telah mendatangi sedikitnya 11 masjid.
Sebagian berada di wilayah Kecamatan Dulupi. Namun langkahnya kemudian semakin jauh.
Ia mengikuti dikili di Masjid Pasar Sore Dulupi, Masjid SMP 1 Dulupi, Masjid Sambati, Masjid Helumo, Masjid Dusun II Kota Raja, Dusun IV Kota Raja, Desa Tenilo, Masjid Rahmat Indah Helumo dan sejumlah lokasi lainnya.
Langkahnya kemudian sampai ke Kecamatan Tilamuta, termasuk mengikuti dikili di Masjid Desa Pentadu Timur.
Ia juga mendatangi Masjid Batu Keramat di Kecamatan Paguyaman.
Namun perjalanan Nugi ternyata tidak berhenti di Kabupaten Boalemo.
Ia bahkan menyeberangi batas kabupaten dan sampai ke Desa Helumo, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo, untuk mengikuti lantunan dikili.
Dari Dulupi menuju Tilamuta dan Paguyaman, lalu menyeberang hingga Mootilango.
Bagi anak berusia 15 tahun, perjalanan itu bukan sekadar berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya.
Ada sesuatu yang sedang ia cari.
Setiap masjid menjadi ruang belajar.
Setiap lantunan menjadi pengetahuan baru.
Dan setiap malam yang dilewatinya bersama para pendzikir senior menjadi pengalaman yang perlahan membentuk kecintaannya terhadap tradisi.
Ketika malam semakin larut dan sebagian anak seusianya mungkin telah terlelap, Nugi justru masih duduk di dalam masjid.
Ia mendengarkan.
Mengikuti.
Melantunkan.
Dan belajar.
Motivasi terbesarnya datang dari sang nenek.
Nugi ingin terus mengikuti jejak tersebut sekaligus ikut menjaga budaya dan tradisi Gorontalo, khususnya dikili dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam tradisi masyarakat Gorontalo, dikili merupakan bagian penting dari peringatan Maulid Nabi. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo menjelaskan bahwa peringatan Maulid di Gorontalo diwarnai dzikir dan lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dapat berlangsung semalam suntuk, mulai setelah salat Isya hingga menjelang Subuh, kemudian ditutup dengan doa Walima pada pagi harinya.
Dikili sendiri merupakan tradisi lisan khas Gorontalo berupa zikir yang dilantunkan di masjid sepanjang malam. Lantunannya berisi shalawat, pujian kepada Nabi Muhammad SAW serta kisah tentang kelahiran dan kenabian beliau.
Karena itu, dikili tidak hanya memiliki dimensi keagamaan.
Ia juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Gorontalo.
Dan identitas budaya tidak akan bertahan hanya karena generasi muda mengenalnya.
Ia akan bertahan ketika ada generasi yang bersedia belajar, menjalankannya dan kemudian meneruskannya.
Di sinilah kisah Nugi menjadi menarik.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, seorang anak justru memilih mendekat kepada tradisi.
Bukan karena dipaksa.
Bukan pula sekadar ikut-ikutan.
Tetapi karena sejak kecil ia menemukan sesuatu yang membuatnya ingin terus kembali.
Di balik perjalanan itu, ada dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
Sang ibu, Friska Rahman, mengatakan keluarga akan terus mendukung kegiatan Nugi selama berada dalam hal-hal yang positif.
Bahkan setiap kali Nugi pergi mengikuti dikili, orang tuanya berusaha mengantar dan menjemputnya.
“Kami sebagai orang tua tentu sangat mendukung apa yang dilakukan Nugi selama itu positif. Kami selalu berusaha mengantar dan menjemputnya setiap kali dia pergi dikili. Kami melihat ini bukan hanya sebagai kegiatan biasa, tetapi juga sebagai kesempatan bagi Nugi untuk belajar agama dan mengenal budaya daerahnya,” ungkap Friska kepada media, Jumat (11/9/2026).
Friska berharap kecintaan anaknya terhadap dikili tidak berhenti sebagai kegemaran masa remaja.
Ia ingin apa yang tumbuh dalam diri Nugi terus berkembang seiring bertambahnya usia.
Lebih dari itu, ia berharap Nugi dapat menjadi salah satu generasi muda yang ikut mempertahankan tradisi tersebut di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Nugi mungkin belum sepenuhnya menyadari arti besar dari apa yang dilakukannya.
Ia mungkin hanya tahu bahwa dirinya senang mengikuti dikili.
Senang mendengar lantunannya.
Senang duduk bersama para pendzikir.
Dan senang ketika kembali mendapatkan kesempatan mengikuti dikili di masjid lain.
Namun tanpa disadari, langkah kecil itu sedang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Ia sedang menyambung mata rantai tradisi.
Dari sang nenek kepada dirinya.
Dari para pendzikir senior kepada generasi yang lebih muda.
Dari satu masjid ke masjid lainnya.
Suara Nugi memang masih muda.
Tetapi dari suara muda itulah, dikili Gorontalo menemukan harapan untuk tetap terdengar.
Sebab tradisi tidak selalu diselamatkan oleh mereka yang paling tua.
Kadang, ia justru diselamatkan oleh seorang anak yang memilih untuk tetap duduk ketika yang lain memilih pergi.
Dan malam demi malam, dari masjid ke masjid, Nugi sedang membuktikan satu hal sederhana,
warisan budaya tidak akan menjadi masa lalu selama masih ada generasi yang bersedia melantunkannya. (red/)

