Keluarga Echa Masih Berharap: “Semoga Kerangka Itu Bukan Echa, Kami Menunggu Hasil DNA”

Table of Contents

BOALEMO – Misteri hilangnya Elsanti Ibrahim alias Echa, gadis asal Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga.

Echa dilaporkan hilang sejak 19 Juni 2026. Lebih dari tiga bulan berlalu, keberadaannya belum juga diketahui. Kini, harapan keluarga kembali diuji setelah ditemukannya kerangka manusia di kawasan perkebunan tebu Desa Bongo Tua, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, pada 24 September 2026.

Temuan tersebut kemudian dikaitkan dengan kasus hilangnya Echa setelah polisi menemukan sebuah telepon seluler di saluran irigasi yang tidak jauh dari lokasi kerangka. Setelah dikonfirmasi kepada keluarga, telepon seluler tersebut diketahui merupakan milik Echa. Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa kerangka manusia tersebut adalah Echa. Identitasnya masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan DNA.

Di tengah teka-teki tersebut, keluarga Echa memilih untuk tetap berpegang pada harapan.

Saat ditemui awak media di kediamannya, Rabu (30/9/2026), ibunda Echa didampingi kakak ipar Echa, Lian Abdjul, mengungkapkan bagaimana dirinya pertama kali mengetahui adanya penemuan kerangka manusia tersebut.

Menurutnya, informasi mengenai temuan kerangka itu pertama kali diterimanya dari pihak keluarga. Mendengar kabar tersebut, sang suami kemudian langsung bergegas menuju lokasi tempat ditemukannya kerangka.

Kabar itu sempat membuat dirinya panik dan diliputi kekhawatiran. Namun, ketika dirinya mendatangi lokasi pada keesokan harinya, sang ibu mengaku tidak merasakan firasat buruk apa pun.

Tidak adanya firasat tersebut kemudian menjadi salah satu alasan keluarga untuk tetap mempertahankan harapan bahwa kerangka yang ditemukan bukanlah Echa.

“Kami masih berharap Echa hanya pergi merantau. Kami berdoa semoga dia masih ada dan suatu saat bisa kembali dalam keadaan sehat walafiat,” demikian harapan keluarga.

Namun, di balik harapan tersebut, ibunda Echa juga berusaha mempersiapkan hati menghadapi kemungkinan terburuk.

Dengan mata yang berkaca-kaca dan sembari menitikkan air mata, ibunda Echa menyampaikan bahwa apabila nantinya hasil pemeriksaan DNA menunjukkan kenyataan pahit bahwa kerangka manusia tersebut benar merupakan Echa, keluarga akan berusaha menerima kenyataan tersebut dengan hati yang besar dan penuh keikhlasan.

Ia mengaku, sebagai seorang ibu, menerima kemungkinan tersebut tentu bukan perkara mudah. Namun, keluarga akan berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas apabila hasil pemeriksaan ilmiah nantinya memberikan kepastian bahwa kerangka tersebut adalah putri mereka.

Sang ibu juga mengenang Echa sebagai sosok anak yang baik dan penurut kepada orang tua.

Menurutnya, selama ini Echa tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun. Karena itu, keluarga masih sulit menerima berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan hilangnya Echa dan tetap berharap putrinya masih berada di suatu tempat dalam keadaan selamat.

Keluarga kini memilih menunggu hasil pemeriksaan DNA yang dilakukan melalui Rumah Sakit Bhayangkara Polda Gorontalo. Menurut informasi yang diterima keluarga, hasil tersebut diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu sekitar tiga hingga empat minggu.

Bagi keluarga, hasil DNA nantinya menjadi jawaban paling penting untuk mengakhiri ketidakpastian yang selama ini menghantui.

Sebab, di satu sisi terdapat temuan kerangka manusia yang secara usia dan jenis kelamin disebut masih perlu diidentifikasi secara ilmiah, sementara di sisi lain terdapat sejumlah petunjuk yang mengarah kepada Echa, termasuk telepon seluler yang ditemukan tidak jauh dari lokasi kerangka.

Polda Gorontalo sendiri masih melakukan penyelidikan untuk memastikan identitas kerangka sekaligus mendalami penyebab kematian. Sebelumnya, aparat kepolisian juga telah melakukan pencarian secara intensif terhadap Echa, termasuk mengerahkan tim gabungan, anjing pelacak, hingga memperluas penyisiran di sekitar lokasi ditemukannya sepeda motor yang diyakini berkaitan dengan Echa.

Dalam kesempatan yang sama, Lian Abjul juga memberikan klarifikasi terkait berbagai tudingan dan spekulasi publik yang belakangan mengarah kepada dirinya.

Lian membantah tudingan tersebut dan menjelaskan bahwa sejumlah barang yang ditemukan di sekitar lokasi saat itu merupakan informasi atau temuan dari pihak lain yang kemudian disampaikan kepada keluarga.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya belum melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian berkaitan dengan sejumlah postingan yang beredar di media sosial.

Menurut Lian, persoalan tersebut sebaiknya tidak ditarik pada kesimpulan masing-masing sebelum seluruh fakta dan hasil pemeriksaan resmi diperoleh.

Keluarga pun meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kerangka yang ditemukan di perkebunan tebu tersebut merupakan Echa.

Sebab, sampai saat ini belum ada hasil pemeriksaan DNA yang secara resmi menyatakan demikian.

Harapan keluarga masih sama, semoga kerangka tersebut tidak memiliki kaitan dengan hilangnya Elsanti Ibrahim alias Echa.

Dan di tengah penantian panjang itu, keluarga masih menyimpan doa yang sama, semoga Echa masih hidup, berada di suatu tempat, dan suatu hari dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang satu apa pun.

Namun jika hasil DNA nantinya berkata lain, seorang ibu hanya bisa mencoba menguatkan hati, menerima kenyataan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, meski air mata mungkin menjadi saksi betapa beratnya kehilangan seorang anak.

Untuk sementara, semua pihak diminta menunggu satu jawaban ilmiah, hasil DNA.

Sebab, dari hasil pemeriksaan itulah misteri identitas kerangka tersebut akan menemukan titik terang. (red/)
Tak-berjudul81-20250220065525