Jembatan Bulangita Tertutup Lumpur, Warga Resah: Diduga Dampak Sedimentasi Aktivitas PETI
POHUWATO — Kondisi akses jembatan di Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, dikeluhkan warga karena semakin sulit dilalui. Jalan tanah di sekitar jembatan dipenuhi lumpur dan sedimentasi, bahkan aliran sungai disebut tidak lagi mampu menampung endapan yang menumpuk.
Kondisi tersebut disampaikan sejumlah sumber warga pada Jumat (4/9/2026). Berdasarkan dokumentasi warga, permukaan jalan terlihat becek dan licin akibat material lumpur yang terbawa aliran air hingga memenuhi bagian sekitar jembatan.
Jembatan tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat Desa Bulangita karena menjadi akses satu-satunya warga menuju pusat Kecamatan Marisa dan sejumlah fasilitas serta aktivitas perekonomian di wilayah tersebut.
Karena itu, warga khawatir kondisi jembatan yang semakin dipenuhi sedimentasi dapat mengancam kelancaran akses mereka. Jika jembatan sampai mengalami kerusakan parah, jebol, atau material lumpur terus menumpuk hingga tidak terkendali, maka akses warga Bulangita menuju pusat Marisa berpotensi terputus.
Warga menduga sedimentasi tersebut berkaitan dengan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Bulangita. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan verifikasi dari pihak berwenang.
Menurut warga, persoalan ini telah mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat musim kemarau, debu disebut beterbangan di sekitar akses jalan. Sementara ketika hujan turun, lumpur kembali memenuhi jalan sehingga menyulitkan warga, khususnya pengendara roda dua dan anak-anak yang melintas.
Yang menjadi perhatian warga, kondisi aliran berlumpur tersebut disebut tetap terjadi meski saat ini masih memasuki musim kemarau.
“Kami minta aparat dan pemerintah segera turun. Ini sudah meresahkan. Jalan rusak, lingkungan rusak, dan yang paling dirugikan masyarakat,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Warga lainnya mempertanyakan kondisi tersebut di tengah upaya penertiban aktivitas PETI di wilayah tersebut.
“Mengherankan lagi, ini masih masa penertiban tapi lumpur bisa jebol dari aliran sungai. Kalau cuma pengaruh hujan tidak mungkin karena ini masih musim kemarau,” ujarnya.
Kekhawatiran lain juga muncul terkait aktivitas pada malam hari. Seorang warga mengaku sering mendengar mesin pompa air atau alkon beroperasi pada malam hari.
“Setiap malam saja mesin air dari alkon hidup terus. Bahkan kami warga mulai resah dengan kekeringan air. Kemungkinan besar mereka kerja malam,” katanya.
Pernyataan tersebut merupakan keterangan warga dan belum dapat memastikan adanya aktivitas pertambangan pada malam hari. Diperlukan pemeriksaan langsung dari aparat dan instansi terkait untuk memastikan kondisi di lapangan.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Pohuwato, Polres Pohuwato, serta Dinas Lingkungan Hidup segera turun ke lokasi untuk mengecek kondisi sungai, sumber sedimentasi, dan aktivitas yang diduga menjadi penyebabnya.
Selain meminta akses jalan ditangani, masyarakat juga berharap dilakukan normalisasi aliran sungai apabila diperlukan serta penertiban terhadap aktivitas pertambangan ilegal sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Warga menilai persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebab, selain menyangkut kondisi lingkungan dan keselamatan pengguna jalan, keberadaan jembatan tersebut berkaitan langsung dengan akses mobilitas masyarakat Bulangita menuju pusat Marisa.
Jika jembatan sampai jebol atau sedimentasi lumpur terus bertambah tanpa penanganan, warga khawatir akses utama mereka menuju pusat Marisa benar-benar terputus.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti sedimentasi dan lumpur yang memenuhi kawasan jembatan tersebut. (red/)


