ENBORA Jadi Inovasi Baru Desa Bongo IV, Mahasiswa UMGO Dorong Warga Kembangkan UMKM Lokal

Table of Contents

 


BOALEMO – Potensi bahan pangan lokal di Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, terus didorong agar memiliki nilai ekonomi. Hal itu diwujudkan mahasiswa Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Tematik XXX Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) melalui pelatihan pembuatan ENBORA (Enting-Enting Kacang Bongo IV Gula Merah), Rabu (12/8/2026).

Bertempat di Sanggar Desa Bongo IV, kegiatan tersebut diikuti masyarakat bersama aparat pemerintah desa, Karang Taruna, serta mahasiswa KKD Tematik XXX UMGO.

ENBORA diperkenalkan sebagai inovasi olahan berbahan dasar kacang dan gula merah yang diharapkan dapat menjadi salah satu produk khas Desa Bongo IV sekaligus membuka peluang pengembangan usaha bagi masyarakat.

Pelatihan ini tidak sekadar mengajarkan proses pembuatan produk. Mahasiswa juga mendorong masyarakat untuk melihat potensi pengembangan ENBORA dari berbagai aspek, mulai dari produksi, kualitas, pengemasan, pemasaran hingga keberlanjutan usaha.

Moh. Aidin Kasim, perwakilan mahasiswa KKD Tematik XXX UMGO, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk upaya mahasiswa dalam menggali potensi yang dimiliki masyarakat Desa Bongo IV.

“Kami melihat bahwa Desa Bongo IV memiliki bahan lokal yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui ENBORA, kami ingin memberikan keterampilan kepada masyarakat agar dapat mengolah kacang dan gula merah menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai jual,” ungkap Aidin.

Ia berharap ENBORA dapat terus dikembangkan setelah program KKD selesai sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKD Tematik XXX UMGO, Bachrudin K. Una, S.E., M.Ak., menyebut kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.

Menurutnya, pengembangan produk berbasis bahan lokal dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh peluang usaha dan pengembangan UMKM.

“Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah bahan pangan lokal, tetapi juga membuka wawasan masyarakat mengenai peluang ekonomi melalui pengembangan UMKM,” jelas Bachrudin.

Ia berharap sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, Karang Taruna dan masyarakat dapat terus terjaga sehingga ENBORA mampu berkembang menjadi produk yang memiliki identitas serta nilai ekonomi bagi Desa Bongo IV.

Apresiasi terhadap program tersebut disampaikan Kepala Desa Bongo IV, Sirlan Hippy. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan mahasiswa memberikan manfaat langsung karena masyarakat mendapatkan pengetahuan baru yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.

“Kami sangat mengapresiasi program yang dilakukan mahasiswa KKD Tematik XXX UMGO. Ini merupakan kegiatan positif karena masyarakat tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga diperkenalkan pada peluang untuk mengembangkan potensi yang ada di desa,” ujar Sirlan.

Ia berharap ENBORA tidak berhenti sebagai produk hasil pelatihan, namun dapat terus dikembangkan bersama masyarakat dengan dukungan pemerintah desa.

“Kami berharap ke depan ENBORA bisa menjadi salah satu produk unggulan Desa Bongo IV. Jika dikelola dengan baik, mulai dari produksi, kemasan hingga pemasaran, tentu ini bisa menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” tambahnya.

Pelatihan tersebut turut menggandeng Yulian Daud, warga Dusun Mootilango, Desa Bongo IV, sebagai mitra kegiatan.

Mahasiswa KKD Tematik XXX UMGO berharap inovasi ENBORA dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan masyarakat sekaligus memperkuat identitas produk lokal Desa Bongo IV. (red/)

Tak-berjudul81-20250220065525