BSG dan Kontraktor Didorong Buka Akses Rumah Layak bagi Ribuan Pekerja Pohuwato

Table of Contents

 


POHUWATO — Harapan ribuan pekerja di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, untuk memiliki rumah layak semakin terbuka. BPJS Ketenagakerjaan bersama BSG Pohuwato serta perusahaan kontraktor dan mitra kerja mendorong optimalisasi Manfaat Layanan Tambahan (MLT) BPJS Ketenagakerjaan, khususnya fasilitas pembiayaan perumahan bagi pekerja.

Program tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk membantu pekerja yang belum memiliki rumah, membutuhkan uang muka pembelian rumah, membangun rumah, hingga melakukan renovasi tempat tinggal sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Gorontalo, Dr. Ir. Sanco Simanullang, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., didampingi Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Pohuwato Sri Mulyana, mengatakan MLT tidak semata-mata harus dipandang sebagai fasilitas pembiayaan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi peningkatan kesejahteraan pekerja.

“Kami ingin pekerja tidak hanya terlindungi ketika mengalami risiko kerja, tetapi juga memiliki masa depan yang lebih baik. Salah satunya melalui akses terhadap rumah yang layak. Karena itu, kami mengajak manajemen perusahaan, BSG dan seluruh kontraktor untuk bersama-sama mengoptimalkan MLT,” ujar Sanco.

Menurut Sanco, besarnya aktivitas industri, pertambangan, konstruksi, serta sektor pendukung lainnya di Pohuwato menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang cukup besar.

Selain pekerja perusahaan utama, terdapat pula pekerja pada perusahaan kontraktor, subkontraktor, vendor dan berbagai perusahaan pendukung. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperluas pemanfaatan MLT secara lebih masif.

BPJS Ketenagakerjaan akan mendorong perusahaan melakukan pemetaan terhadap pekerja yang memiliki kebutuhan perumahan.

Pemetaan tersebut mencakup pekerja yang belum memiliki rumah, membutuhkan uang muka pembelian rumah, ingin membeli atau membangun rumah, hingga pekerja yang membutuhkan pembiayaan renovasi rumah.

“Jangan sampai pekerja sebenarnya sudah memenuhi persyaratan tetapi tidak mengetahui bahwa ada fasilitas MLT. Karena itu kami ingin turun bersama perusahaan untuk melakukan sosialisasi dan pendataan,” jelas Sanco, Minggu (30/8/2026).

Sinergi dengan sektor perbankan juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut. BSG Pohuwato didorong untuk menjadi salah satu mitra dalam mendukung akses pembiayaan perumahan bagi pekerja.

Manajemen BSG Pohuwato, Roy Haras, mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan dapat membangun ekosistem pembiayaan perumahan pekerja yang lebih mudah, terukur dan terintegrasi.

Dalam skemanya, BPJS Ketenagakerjaan berperan memastikan peserta memenuhi persyaratan program. Sementara proses analisis dan persetujuan kredit tetap mengikuti ketentuan bank penyalur.

Dengan demikian, calon peserta dapat memperoleh informasi secara langsung mengenai kemampuan pembiayaan, dokumen yang diperlukan, skema kredit hingga tahapan pengajuan.

BPJS Ketenagakerjaan juga mengajak perusahaan kontraktor dan subkontraktor menjadikan MLT sebagai salah satu instrumen peningkatan kesejahteraan pekerja.

Perusahaan dapat berperan dengan melakukan pendataan internal dan mengidentifikasi pekerja yang membutuhkan fasilitas perumahan. Selanjutnya, pekerja dapat diarahkan untuk mendapatkan informasi serta pendampingan dari BPJS Ketenagakerjaan bersama bank penyalur.

“Kami berharap perusahaan dan seluruh kontraktor tidak hanya melihat MLT sebagai program BPJS Ketenagakerjaan, tetapi sebagai instrumen kesejahteraan pekerja. Kalau pekerja memiliki rumah yang layak, tentu akan memberikan dampak positif terhadap keluarga, ketenangan bekerja, loyalitas dan produktivitas,” kata Sanco.

Dalam program MLT BPJS Ketenagakerjaan, terdapat sejumlah fasilitas yang dapat dimanfaatkan peserta sesuai persyaratan dan ketentuan yang berlaku.

Pertama, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk membantu peserta memperoleh pembiayaan kepemilikan rumah.

Kedua, Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP) yang dapat membantu memenuhi kebutuhan uang muka pembelian rumah.

Ketiga, Pinjaman Renovasi Perumahan (PRP) bagi peserta yang telah memiliki rumah namun membutuhkan pembiayaan renovasi.

Keempat, Kredit Konstruksi (KK) untuk kebutuhan pembangunan rumah sesuai ketentuan MLT dan analisis pembiayaan.

Sanco mengingatkan, MLT bukan bantuan tunai yang diberikan secara otomatis. Setiap pengajuan tetap harus memenuhi persyaratan program maupun ketentuan pembiayaan dari bank penyalur.

Di antaranya peserta harus terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, memiliki kepesertaan aktif sesuai ketentuan, memenuhi masa kepesertaan yang dipersyaratkan, serta memastikan perusahaan memenuhi kewajiban kepesertaan dan pembayaran iuran.

Calon penerima juga harus memenuhi persyaratan administrasi, dokumen perumahan, ketentuan pengajuan MLT, serta analisis kredit dari bank penyalur.

BPJS Ketenagakerjaan melihat Pohuwato memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekosistem perumahan pekerja melalui kolaborasi lintas sektor.

Ekosistem tersebut dapat melibatkan perusahaan pemberi kerja, kontraktor, pengembang perumahan, perbankan, BPJS Ketenagakerjaan, pemerintah daerah hingga pekerja sebagai penerima manfaat.

Dengan kolaborasi tersebut, kebutuhan rumah layak bagi pekerja diharapkan tidak lagi hanya diselesaikan secara individual, tetapi dapat dikembangkan menjadi program bersama yang terencana dan berkelanjutan.

Program MLT pun diharapkan menjadi salah satu pintu bagi pekerja di Pohuwato untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus membangun masa depan keluarga yang lebih baik. (red/)

Tak-berjudul81-20250220065525