40 Hari Kepergian Rachmat Gobel, Arman Naway: Perjuangan Beliau Tak Boleh Berhenti
BOALEMO – Selasa, 18 Agustus 2026, menjadi hari yang penuh haru bagi keluarga besar Partai NasDem dan masyarakat Gorontalo. Tepat 40 hari setelah kepergian almarhum H. Rachmat Gobel, sosok putra daerah yang jejak pengabdiannya begitu kuat di dunia usaha, politik, dan pembangunan Gorontalo.
Empat puluh hari telah berlalu sejak sosok yang selama ini dikenal sebagai salah satu putra terbaik Gorontalo itu berpulang. Namun, waktu ternyata tidak serta-merta menghapus rasa kehilangan. Justru, semakin hari, kenangan tentang perjuangan dan pengabdian almarhum semakin terasa.
Rachmat Gobel berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026 di Jakarta pada usia 63 tahun. Kepergiannya sontak meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan Partai NasDem, tetapi juga bagi masyarakat Gorontalo yang selama bertahun-tahun mengenal dirinya sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap kemajuan daerah.
Almarhum bukan sekadar seorang pengusaha besar. Ia adalah sosok yang menapaki perjalanan panjang dari dunia industri hingga panggung politik nasional. Rachmat Gobel pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Perdagangan RI, Wakil Ketua DPR RI, dan kemudian kembali dipercaya masyarakat Gorontalo sebagai anggota DPR RI.
Namun, bagi masyarakat Gorontalo, Rachmat Gobel memiliki tempat yang jauh lebih dalam.
Ia adalah putra daerah yang tidak pernah benar-benar meninggalkan tanah kelahirannya. Di tengah kesibukan sebagai pengusaha dan tokoh nasional, Gorontalo selalu menjadi bagian penting dari perjuangannya.
Almarhum tidak hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi berusaha mendorong agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baginya, politik bukan semata-mata soal kekuasaan. Politik harus menjadi jalan untuk menghadirkan perubahan, membuka akses ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat sektor pertanian, serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk hidup lebih sejahtera.
Jejak Perjuangan Rachmat Gobel di Kabupaten Boalemo
Kabupaten Boalemo menjadi salah satu daerah yang memiliki banyak cerita tentang jejak perjuangan Rachmat Gobel.
Perhatian almarhum terhadap Boalemo tidak hanya terlihat dalam kunjungan politik, tetapi juga melalui berbagai aspirasi pembangunan dan program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Di sektor pertanian, misalnya, Rachmat Gobel pernah berdialog langsung dengan para petani di Kecamatan Wonosari. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan pentingnya kesejahteraan petani karena petani merupakan bagian penting dari ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat.
Perjuangannya juga tercatat dalam berbagai program pertanian dan bantuan alat serta mesin pertanian yang menjangkau Kabupaten Boalemo. Data dalam dokumentasi kinerja Rachmat Gobel di DPR RI mencatat adanya realisasi bantuan alsintan untuk sejumlah kabupaten/kota di Gorontalo, termasuk Boalemo.
Namun, salah satu jejak yang paling kuat menjelang akhir perjalanan pengabdiannya di Boalemo adalah gagasan ekonomi hijau berbasis potensi lokal.
Pada Desember 2025, Rachmat Gobel melakukan penanaman bambu di lahan kritis Desa Huwongo, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Di daerah tersebut, ia menargetkan pengembangan hingga satu juta pohon bambu petung. Pada saat yang sama, almarhum juga mendorong pengembangan kakao di Desa Lahumbo, Kecamatan Tilamuta, dengan target penanaman hingga dua juta pohon.
L
Bagi Rachmat Gobel, penghijauan bukan sekadar persoalan lingkungan.
Ia melihat alam sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat tanpa harus merusak lingkungan.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui program pengembangan ekonomi hijau di Boalemo.
Pada 30 Oktober 2025, Rachmat Gobel turut hadir dalam pencanangan penanaman massal Bambu Petung di Desa Kuala Lumpur, Kecamatan Paguyaman, sekaligus peresmian Jalan Lingkar Wonggahu–Tangkobu, sebuah infrastruktur yang disebut sebagai bagian dari aspirasi yang diperjuangkannya. Jalan tersebut diharapkan memperlancar mobilitas, membuka konektivitas antarwilayah dan mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Jejak perjuangan almarhum juga menyentuh sektor pendidikan.
Di Kabupaten Boalemo, Rachmat Gobel turut memperjuangkan pembangunan sarana pendidikan dan asrama Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta. Dokumentasi kinerja DPR mencatat bahwa perjuangan tersebut berujung pada pembangunan asrama dua lantai dengan kapasitas puluhan santri, termasuk dukungan fasilitas tempat tidur, kasur, lemari dan sarana belajar.
Semua itu menunjukkan bahwa perhatian Rachmat Gobel terhadap Boalemo tidak berhenti pada satu sektor.
Pertanian, lingkungan, infrastruktur, pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan pembangunan sumber daya manusia menjadi bagian dari gagasan besarnya.
Karena itu, ketika Rachmat Gobel pergi, yang ditinggalkan bukan hanya sebuah nama besar.
Ia meninggalkan pekerjaan rumah dan cita-cita yang harus dilanjutkan.
Bagi masyarakat Gorontalo, Rachmat Gobel juga dikenal dengan gelar “Ti Bulilango Hunggia”, yang dimaknai sebagai sosok pemberi cahaya bagi negeri.
Gelar tersebut seolah menggambarkan perjalanan hidupnya. Ia datang dari dunia usaha, kemudian masuk ke panggung politik nasional, tetapi tetap membawa perhatian terhadap daerah asalnya.
Ia pernah berada di pusat kekuasaan dan mengambil bagian dalam berbagai kebijakan nasional. Namun, Gorontalo tetap menjadi bagian penting dari perjuangannya.
Dan kini, ketika sosok itu telah tiada, cahaya perjuangannya harus diteruskan oleh orang-orang yang masih berdiri.
Momentum 40 hari wafatnya almarhum juga menjadi bagian penting dalam rangkaian doa dan penghormatan keluarga serta masyarakat.
Pada tahlil dan doa bersama memperingati 40 hari kepergian Rachmat Gobel, almarhum mendapatkan penghormatan adat dari para pemangku adat di Provinsi Gorontalo berupa gelar “Ta’ Lo Olamahe Lipu.”
Gelar tersebut dimaknai sebagai “yang memakmurkan negeri.”
Pemberian gelar adat itu menjadi simbol penghormatan masyarakat Gorontalo terhadap perjalanan dan pengabdian almarhum. Gelar tersebut juga menjadi sebuah pesan bahwa jasa seorang tokoh tidak berakhir ketika kehidupannya berakhir.
Ia akan terus hidup melalui nilai, karya, pemikiran dan perjuangan yang diwariskannya kepada generasi berikutnya.
Di tengah suasana tahlil dan doa, gelar “Ta’ Lo Olamahe Lipu” terasa semakin memiliki makna.
Seorang putra Gorontalo yang sepanjang hidupnya berbicara tentang pembangunan, kesejahteraan, lingkungan, pendidikan dan masa depan masyarakat, kini dikenang sebagai sosok yang telah memberikan pengabdian bagi negeri.
Bagi keluarga besar Partai NasDem, kepergian Rachmat Gobel tentu meninggalkan kehilangan yang sangat besar.
Hal itu juga dirasakan Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Boalemo, Arman Naway.
Arman mengenang Rachmat Gobel bukan hanya sebagai tokoh politik, tetapi sebagai sosok yang menjadi inspirasi dan panutan bagi kader-kader NasDem, khususnya di Gorontalo.
Menurut Arman, Rachmat Gobel telah menunjukkan bahwa perjuangan politik harus bermuara pada kepentingan rakyat.
“Insya Allah, perjuangan almarhum Rachmat Gobel akan terus kami lanjutkan. Apa yang beliau cita-citakan untuk masyarakat, untuk Gorontalo, dan untuk bangsa ini harus menjadi semangat bagi kami untuk terus bekerja dan mengabdi,” ujar Arman Naway, Selasa (18/8/2026).
Arman menegaskan, mengenang Rachmat Gobel tidak cukup hanya dengan doa dan rasa kehilangan.
Yang jauh lebih penting adalah menjaga cita-cita dan meneruskan pekerjaan yang telah dirintis almarhum.
“Kami tidak ingin apa yang sudah beliau perjuangkan berhenti begitu saja. Insya Allah, kami akan terus melanjutkan perjuangan beliau, menjaga amanah dan cita-cita beliau untuk masyarakat,” lanjut Arman.
Bagi Arman, Rachmat Gobel telah memberikan pelajaran bahwa seorang pemimpin tidak diukur hanya dari jabatan yang pernah didudukinya, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan untuk masyarakat.
Karena itu, perjuangan almarhum harus menjadi energi bagi kader NasDem dan generasi penerus untuk terus bekerja.
Terutama di Kabupaten Boalemo, berbagai gagasan dan program yang pernah diperjuangkan Rachmat Gobel harus terus dikawal agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Empat puluh hari mungkin menjadi penanda dalam perjalanan duka sebuah keluarga.
Namun, bagi masyarakat yang pernah merasakan perjuangan Rachmat Gobel, 40 hari bukanlah akhir dari sebuah cerita.
Justru, 40 hari menjadi momentum untuk kembali mengingat apa yang telah diperjuangkan almarhum.
Tentang petani yang ingin sejahtera.
Tentang masyarakat yang membutuhkan jalan dan akses ekonomi.
Tentang pendidikan yang harus diperkuat.
Tentang lingkungan yang harus dijaga.
Tentang generasi muda yang harus dipersiapkan.
Dan tentang Gorontalo yang menurutnya harus mampu berdiri sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya.
Kini, Rachmat Gobel memang telah pergi.
Tetapi jalan yang pernah ia buka masih terbentang.
Pohon-pohon bambu yang pernah ia tanam akan terus tumbuh.
Jalan yang pernah ia perjuangkan akan terus dilalui masyarakat.
Sekolah dan asrama yang pernah ia bantu akan terus menjadi tempat menimba ilmu.
Dan cita-cita tentang Gorontalo yang lebih maju akan terus menjadi tanggung jawab generasi yang ditinggalkannya.
Karena seorang tokoh boleh pergi, tetapi perjuangan dan cita-cita untuk rakyat tidak boleh ikut pergi.
Kini, nama Rachmat Gobel menjadi bagian dari sejarah panjang Gorontalo. Sejarah tentang seorang putra daerah yang pernah berdiri di panggung nasional, tetapi tetap membawa nama dan kepentingan tanah kelahirannya dalam setiap langkah pengabdian.
Dan ketika para pemangku adat memberikan gelar “Ta’ Lo Olamahe Lipu”, yang memakmurkan negeri, gelar itu menjadi simbol penghormatan sekaligus pengingat bahwa Rachmat Gobel telah meninggalkan jejak panjang bagi tanah Gorontalo.
Selamat jalan, H. Rachmat Gobel.
Empat puluh hari telah berlalu. Namun bagi mereka yang pernah merasakan perjuangan dan ketulusanmu, namamu tidak akan hilang.
Jejakmu akan terus menjadi cahaya.
Gagasanmu akan terus menjadi arah.
Dan perjuanganmu, insya Allah, akan terus dilanjutkan. (red/)


