Banjir Lumpur Diduga Akibat Aktivitas Tambang Hantui Warga Bulangita: APH Didesak Usut Tuntas, Pemerintah Desa Jangan Tutup Mata
Pohuwato, Gorontalo – Warga Dusun Bitila, Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, kembali menyuarakan keresahan mereka atas banjir lumpur yang disebut terus mengancam permukiman. Menurut pengakuan sejumlah warga, kondisi tersebut mulai terjadi sejak adanya aktivitas pertambangan di sekitar wilayah mereka yang diduga masih beroperasi hingga saat ini.
Yang menjadi sorotan, genangan lumpur tetap terlihat meski musim kemarau masih berlangsung. Warga pun dihantui kekhawatiran lebih besar menjelang musim penghujan, karena mereka khawatir volume lumpur yang terbawa aliran air akan semakin meningkat dan kembali merendam rumah-rumah penduduk.
Salah seorang warga, Yulan Munggea, mengaku perubahan kondisi lingkungan mulai dirasakan sejak aktivitas pertambangan berlangsung. Sebelum itu, menurutnya, wilayah tersebut hanya mengalami genangan air saat hujan deras. Kini, air yang datang disebut selalu membawa material lumpur.
"Sejak ada tambang, rumah warga mulai tergenang lumpur. Dulu hanya air yang naik, sekarang setiap hujan membawa lumpur," ujar Yulan kepada awak media, Kamis (2/7/2026).
Yulan juga menceritakan pengalaman pahit ketika rumahnya diterjang banjir lumpur pada malam hari. Setelah menerima kabar sekitar pukul 21.00 WITA, ia harus bergegas pulang dan baru tiba sekitar pukul 23.00 WITA. Sesampainya di rumah, ia mendapati lumpur telah memenuhi bagian dalam rumah sehingga harus langsung melakukan pembersihan.
Menurut Yulan, lumpur tersebut diduga berasal dari kawasan aktivitas pertambangan. Namun hingga kini, warga mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas tersebut karena para pekerja disebut silih berganti.
"Kami tidak tahu siapa mereka. Yang kami lihat hanya pekerja yang terus berganti. Karena itu kami meminta aparat menyelidiki siapa yang sebenarnya bertanggung jawab," tegasnya.
Kekecewaan warga semakin bertambah lantaran berbagai keluhan yang telah disampaikan kepada pemerintah desa disebut belum membuahkan solusi. Padahal, menurut warga, lokasi rumah Kepala Desa maupun Kepala Dusun berada tidak jauh dari kawasan yang terdampak banjir lumpur.
Warga berharap pemerintah desa tidak hanya mengetahui persoalan tersebut, tetapi juga segera mengambil langkah nyata untuk mencari solusi serta memperjuangkan keselamatan masyarakat yang setiap saat dihantui ancaman banjir lumpur.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya berinisial MA. Ia menilai selama aktivitas pertambangan masih berlangsung, persoalan lingkungan yang mereka hadapi tidak akan pernah benar-benar selesai.
Atas kondisi itu, warga mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) bersama instansi teknis terkait segera melakukan penyelidikan terhadap aktivitas pertambangan yang diduga tidak memiliki izin serta memeriksa kemungkinan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Warga berharap penegakan hukum dilakukan secara transparan dan tidak tebang pilih apabila ditemukan adanya pelanggaran.
Sementara itu, saat awak media mendatangi Kantor Desa Bulangita untuk meminta konfirmasi, Kepala Desa tidak berada di tempat. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Bulangita maupun instansi terkait mengenai keluhan warga dan dugaan dampak aktivitas pertambangan tersebut.
Media ini tetap membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan sebagai bentuk penerapan prinsip keberimbangan, akurasi, dan profesionalisme jurnalistik. (red/)


