Nama Mantan Gubernur Diseret dalam Kasus Pembacokan Jurnalis Gorontalo, Keluarga Korban Desak Pengusutan Aktor Intelektual

Table of Contents

 


GORONTALO – Kasus pembacokan terhadap seorang jurnalis di Gorontalo yang terjadi pada Juni 2021 kembali mencuat ke publik dan memunculkan babak baru yang lebih serius. Nama mantan Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, yang saat ini merupakan Anggota DPR-RI aktif, mulai diseret dalam dugaan sebagai pihak yang disebut-sebut berada di balik peristiwa tersebut.

Polemik itu mencuat setelah beredarnya postingan di media sosial yang diunggah oleh mantan terpidana kasus tersebut. Dalam unggahan itu muncul dugaan yang mengarah kepada Rusli Habibie sebagai aktor intelektual dalam kasus pembacokan jurnalis yang sempat menghebohkan Gorontalo lima tahun silam.

Menanggapi hal tersebut, adik korban, Jhojo Rumampuk, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Gorontalo, mengaku pihak keluarga terkejut karena kasus yang dianggap telah selesai itu kembali terbuka ke publik.

“Kami jujur terkejut dengan postingan mantan terpidana itu. Kami juga sempat kecewa dan sedih atas putusan pengadilan yang tidak menyentuh pihak yang berada di belakang layar saat itu,” kata Jhojo, Kamis (11/6/2026).

Ia menegaskan, dengan munculnya fakta baru yang disampaikan secara terbuka di ruang publik, pihak keluarga mendesak Rusli Habibie memberikan klarifikasi langsung kepada masyarakat.

“Ketika hari ini sudah terungkap, maka langkah kami adalah mendesak Pak Rusli untuk mengklarifikasi secara terbuka ke publik,” sambungnya.

Menurut Jhojo, keluarga korban meyakini kasus pembacokan tersebut tidak bisa dipandang sebagai tindak kriminal biasa. Ia menduga terdapat kepentingan tertentu yang melatarbelakangi aksi kekerasan terhadap jurnalis tersebut.

“Kami menduga ada aktor intelektual di balik kasus ini. Dugaan kami mengarah kepada mantan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. Karena itu kami meminta aparat penegak hukum berani mengusut perkara ini hingga ke akar-akarnya,” ujarnya kepada wartawan.

Jhojo juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama Jeffry telah mendatangi Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah yang juga merupakan Istri Rusli Habibie, pada Senin lalu di ruang kerjanya. Dalam pertemuan tersebut, menurut pengakuan Jhojo, Idah Syahidah belum memberikan tanggapan terkait tudingan yang diarahkan kepada suaminya.

Namun, dalam pertemuan itu disebutkan bahwa Idah Syahidah menyampaikan keyakinannya bahwa Rusli Habibie bukan sosok yang akan menyuruh orang lain melakukan tindakan kekerasan.

“Bapak itu pembunuh, dan bapak kalau membunuh itu orangnya gentle atau berhadapan langsung. Bapak tidak mau menyuruh atau memerintahkan orang lain,” demikian kutipan pernyataan yang diklaim disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Pernyataan tersebut justru dinilai memunculkan pertanyaan baru di tengah publik. Polemik pun berkembang menjadi tuntutan agar aparat penegak hukum membuka kembali penyelidikan secara transparan terkait kemungkinan adanya dalang atau pihak yang memiliki motif dalam penyerangan brutal terhadap jurnalis tersebut.

Mewakili keluarga korban, Jhojo menegaskan pihaknya akan membawa perkara itu ke sejumlah lembaga negara, di antaranya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Kejaksaan Republik Indonesia, serta Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

“Kami menilai pengungkapan kasus ini tidak boleh berhenti. Harus ada investigasi menyeluruh terhadap kemungkinan keterlibatan pihak lain yang diduga memiliki kepentingan untuk membungkam kritik atau pemberitaan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahaya jika praktik intimidasi terhadap wartawan, aktivis, maupun lembaga swadaya masyarakat dibiarkan berkembang.

“Kami khawatir mentalitas pejabat yang tidak siap dikritik akan terus tumbuh dan mengakar, sehingga menggunakan tangan orang lain atau cara-cara premanisme untuk menekan pihak tertentu menjadi hal lumrah. Karena itu kasus ini harus dikawal lembaga pengawas nasional,” pungkas Jhojo. (red/)

Tak-berjudul81-20250220065525