Dari Sebuah Keluhan Warga, AK Center Menjelma Jadi Pasukan Kemanusiaan yang Siap Menembus Batas Demi Menyelamatkan Nyawa

Table of Contents

 


Gorontalo – Di saat banyak orang sibuk mengejar kepentingan pribadi, sekelompok anak muda di Gorontalo justru memilih jalan pengabdian. Dengan seragam hitam-merah yang khas dan semangat kemanusiaan yang menyala, AK Center Ambulance hadir menjadi harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Organisasi sosial yang resmi dilantik pada 1 Juni 2026 ini bukan lahir dari sebuah lembaga besar atau dukungan anggaran yang melimpah. AK Center justru tumbuh dari kegelisahan dan keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan kendaraan untuk membawa anggota keluarga yang sakit maupun jenazah ke tempat tujuan.

Sekretaris AK Center, Anisyah S. Katili, kepada media, Sabtu (27/6/2026), mengungkapkan bahwa organisasi tersebut berawal dari gagasan sederhana seorang individu yang kini menjadi Ketua AK Center Ambulance.

"Ide ini muncul karena banyak keluhan masyarakat yang membutuhkan kendaraan untuk mengantar pasien maupun jenazah. Dari situlah muncul keinginan untuk menghadirkan layanan yang bisa membantu masyarakat," ujarnya.

Nama AK Center Ambulance sendiri diambil dari sosok Algazali Katili, yang disebut memiliki peran penting dalam mendukung dan memfasilitasi keberadaan organisasi tersebut, termasuk penyediaan armada serta membantu menjawab berbagai keluhan masyarakat.

Adapun struktur organisasi AK Center adalah sebagai berikut: 

Ketua: Sahril Adjuna

Sekretaris: Anisyah S. Katili

Bendahara: Lina Detu

Penasehat: Dolvy Hasania

Kordinator Lapangan: Sugeng Prayitno

Humas: Agil Sosal

Armada/Logistik: Adit Sosal 

Saat ini AK Center telah memiliki dua unit ambulans yang disiagakan untuk melayani masyarakat. Meski armada berada di Desa Dunggala, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, pelayanan mereka tidak dibatasi oleh wilayah administratif.

"Selama masih bisa kami jangkau dan kondisi pasien memungkinkan untuk melakukan perjalanan, kami akan berusaha memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan," kata Anisyah.

Semangat pengabdian itu menjadi kekuatan utama organisasi ini. Di tengah keterbatasan, para relawan tetap bergerak. Saat ini AK Center memiliki dua sopir ambulans yang aktif bertugas, sementara satu sopir lainnya sedang merampungkan pekerjaannya sehingga masih status nonaktif.

Kondisi tersebut membuat organisasi membuka kesempatan bagi masyarakat untuk bergabung, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan mengemudikan ambulans dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Meski sederhana, fasilitas yang dimiliki ambulans AK Center cukup menunjang pelayanan darurat, seperti sirine, tabung oksigen, dan alat pengukur saturasi oksigen (oximeter). Saat ini mereka juga baru memiliki satu perawat pendamping dan tengah berupaya merekrut dua perawat tambahan serta seorang dokter relawan.

Yang paling menyentuh, seluruh operasional organisasi ini berjalan dari semangat gotong royong. Sumber pendanaan berasal dari pembina, para donatur yang secara sukarela membantu, hingga dana pribadi anggota tim yang rela menyisihkan penghasilannya demi tetap berjalannya pelayanan kemanusiaan.

Di balik suara sirene ambulans yang mereka operasikan, tersimpan kisah pengorbanan, kepedulian, dan semangat tanpa pamrih. AK Center bukan sekadar organisasi sosial, melainkan simbol bahwa kemanusiaan masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.

Ketika banyak orang menunggu bantuan datang, para relawan AK Center justru memilih menjadi orang yang datang membawa pertolongan.

Dengan dua ambulans, semangat sukarela, dan tekad untuk melayani tanpa batas wilayah, AK Center perlahan menjelma menjadi pasukan kemanusiaan yang menginspirasi banyak orang di Gorontalo.

Di tengah segala keterbatasan, mereka membuktikan satu hal penting, menolong sesama tidak selalu membutuhkan kekuatan besar, tetapi membutuhkan hati yang besar. (red/)

Tak-berjudul81-20250220065525