BRI Life Gorontalo Klarifikasi Isu Polis yang Viral di Media Sosial, Tekankan Pentingnya Pemahaman Produk Asuransi

Table of Contents


Gorontalo – Menanggapi isu yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial terkait keluhan terhadap produk asuransi BRI Life, Agency Direktur PT BRI Life Gorontalo, Hanna Pandelaki, S.E., memberikan penjelasan kepada awak media saat ditemui usai sosialisasi di Kabupaten Boalemo, Kamis (18/6/2026).

Menurut Hanna, informasi yang beredar dengan menampilkan foto buku polis berwarna biru kemungkinan merujuk pada produk asuransi konvensional BRI Life yang dikenal sebagai produk Davestera atau jenis unit link, yang menggabungkan unsur proteksi dan investasi.

“Sekadar informasi dari kantor pusat BRI Life, kami selaku pekerja BRI Life wilayah Gorontalo dan seluruh Indonesia ingin menyampaikan bahwa isu yang beredar di media sosial terkait protes terhadap produk asuransi BRI Life kemungkinan benar adanya. Namun, kami pastikan bahwa produk yang dimaksud merupakan produk konvensional yang dipasarkan melalui pihak bank cabang atau unit setempat,” ujar Hanna.

Ia menjelaskan bahwa produk unit link memiliki karakteristik berbeda dengan produk asuransi tradisional karena nilai investasinya bersifat asumsi dan mengikuti kondisi pasar atau pergerakan saham, sehingga hasil yang diperoleh nasabah tidak bersifat pasti.

“Produk tersebut memang ada di BRI Life dan dipasarkan oleh kanal bisnis lain. Di dalamnya terdapat proteksi dan investasi, sehingga nilai yang berkembang mengikuti kondisi pasar. Karena itu, penting untuk memastikan bahwa penjelasan mengenai mekanisme produk telah dipahami dengan baik oleh nasabah sejak awal,” jelasnya.

Hanna menegaskan bahwa BRI Life Agency dan Bank BRI atau BRI konvensional merupakan dua entitas usaha yang berbeda namun sama-sama berada di bawah naungan Grup PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Menurutnya, kanal pemasaran produk juga berbeda, termasuk lokasi operasional dan mekanisme pelayanan kepada nasabah.

“Perlu dipahami bahwa BRI Life Agency dan Bank BRI konvensional merupakan dua perusahaan yang tergabung dalam satu grup PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Untuk produk Davestera, pelayanan dan pemasarannya umumnya dilakukan melalui kantor-kantor Bank BRI atau kanal perbankan. Sedangkan BRI Life Agency memiliki kantor dan jaringan pemasaran tersendiri yang fokus pada produk-produk asuransi,” terang Hanna.

Hanna juga menerangkan bahwa produk Davestera yang saat ini menjadi sorotan umumnya diperoleh nasabah melalui kanal perbankan, khususnya saat mengajukan fasilitas kredit atau pinjaman di kantor Bank BRI tempat nasabah mengajukan pembiayaan. Menurutnya, produk tersebut berbeda dengan produk-produk yang dipasarkan melalui kanal BRI Life Agency.

“Perlu dipahami bahwa produk Davestera biasanya diperoleh nasabah melalui jalur perbankan saat mengajukan pinjaman atau kredit di Bank BRI. Sementara kami di kanal agency BRI Life fokus pada produk-produk asuransi murni, seperti program persiapan hari tua, proteksi penyakit kritis, serta perencanaan dana pendidikan anak, kantor kami pun berbeda,” ungkap Hanna.

Ia menambahkan bahwa setiap kanal pemasaran memiliki jenis produk, mekanisme, dan tujuan yang berbeda. Karena itu, masyarakat diharapkan memahami karakteristik produk yang dipilih serta memperoleh penjelasan yang lengkap sebelum memutuskan menjadi peserta asuransi.

Menurut Hanna, saat ini kanal agency BRI Life lebih difokuskan pada pemasaran produk-produk tradisional berbasis syariah yang dinilai lebih mudah dipahami masyarakat. Pengembangan investasinya juga diarahkan pada instrumen sukuk yang relatif lebih stabil.

Langkah tersebut, lanjutnya, sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat, khususnya terkait produk investasi dalam asuransi.

“Karena banyaknya kasus yang berkaitan dengan unit link di masyarakat, baik akibat kurang lengkapnya penjelasan maupun belum optimalnya pemahaman nasabah terhadap investasi, maka kami diarahkan untuk lebih mengedepankan produk-produk tradisional atau syariah yang lebih aman dan mudah dipahami,” katanya.

Meski demikian, Hanna menegaskan bahwa setiap produk asuransi memiliki keunggulan masing-masing dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta tujuan keuangan nasabah.

“Semua produk pada dasarnya baik untuk masyarakat. Yang paling penting adalah tujuan pembelian polis, serta adanya penjelasan yang jelas dan pemahaman yang sama sejak awal antara pihak pemasar dan nasabah,” tegasnya.

Terkait keluhan yang viral di media sosial, Hanna menilai kemungkinan terdapat perbedaan persepsi atau kurang optimalnya penyampaian informasi saat proses pemasaran produk. Oleh karena itu, pihaknya membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki polis dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut untuk melakukan konsultasi atau bedah polis.

“Kalau memang yang bersangkutan memiliki polis, silakan dibantu untuk dilakukan bedah polis agar dapat diketahui secara jelas manfaat, ketentuan, serta kondisi produk yang dimiliki,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Hanna mengajak seluruh pekerja maupun nasabah BRI Life untuk lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang publik serta mengedepankan klarifikasi dan komunikasi yang baik guna menghindari kesalahpahaman.

“Jadi kita semua, baik pekerja maupun nasabah BRI Life, mari lebih bijak dalam menanggapi berbagai isu yang beredar dan mengedepankan informasi yang utuh agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat,” pungkasnya. (red/)

Tak-berjudul81-20250220065525