Warga Penolak PETI di Pohuwato Dituding Munafik & Provokator, Masyarakat Teratai Soroti Dugaan Kriminalisasi Suara Rakyat
Pohuwato, Gorontalo – Polemik aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Teratai–Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, kian memanas. Sejumlah warga yang selama ini menyuarakan penertiban aktivitas PETI justru mengaku mendapat tekanan hingga dituding sebagai provokator oleh oknum-oknum yang dinilai tidak bertanggung jawab.
Salah satu warga Desa Teratai, Alim Moputi atau yang akrab disapa Om Botak, mengaku kecewa atas pemberitaan yang menyeret namanya sebagai provokator dan bahkan disebut akan diproses pihak kepolisian.
Menurutnya, tudingan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dan terkesan sebagai upaya membungkam suara masyarakat yang menuntut lingkungan mereka diselamatkan dari dampak PETI.
“Apa dan siapa yang saya provokasi? Saya hanya mewakili masyarakat meminta keadilan karena aktivitas PETI telah membuat banjir dan genangan lumpur di desa kami. Kenapa saat kami bersuara malah dituduh provokator?” tegas Om Botak, Sabtu (9/5/2026).
Ia juga mempertanyakan, apakah masyarakat harus memilih diam ketika lingkungan tempat tinggal mereka mulai rusak akibat aktivitas PETI yang diduga memicu banjir dan sedimentasi lumpur di wilayah permukiman warga.
“Kalau masyarakat bersuara meminta keadilan lalu dianggap provokator, bahkan terkesan diarahkan pada dugaan kriminalisasi dan pembungkaman, lalu masyarakat harus bagaimana? Apakah kami harus diam ketika kampung kami rusak akibat lumpur dari PETI?” tambahnya.
Ia juga menyoroti dugaan pelanggaran kode etik jurnalistik dalam pemberitaan tersebut. Menurutnya, dirinya tidak pernah dimintai klarifikasi ataupun diberikan ruang hak jawab sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pers.
Om Botak bahkan menilai ada oknum wartawan yang bekerja tidak profesional dan berencana melaporkan persoalan itu ke Dewan Pers.
Ironisnya lagi, foto dirinya yang digunakan dalam pemberitaan disebut merupakan foto yang sebelumnya diminta oleh seorang oknum kepala dusun untuk keperluan dokumentasi apresiasi kepada aparat kepolisian atas langkah penertiban PETI di wilayah Teratai dan Bulangita.
Namun belakangan, foto tersebut justru dipakai dalam narasi yang menggiring opini seolah dirinya adalah provokator di tengah konflik PETI.
Hal serupa juga dialami Ismet Hamsah atau yang dikenal dengan sapaan Podu Yoyon. Ia mengaku keberatan atas pemberitaan yang menyebut dirinya munafik dan penghianat tanpa adanya konfirmasi langsung.
“Saya keberatan dengan apa yang diliput media. Saya dibilang penghianat dan munafik. Apa yang saya hianati dan apa juga yang saya munafiki? Ini sudah mencemarkan nama baik saya dan tidak ada konfirmasi dari saya,” ungkap Podu Yoyon.
Situasi ini memicu reaksi keras masyarakat Desa Teratai. Warga menilai jangan sampai kebebasan pers disalahgunakan untuk menyerang masyarakat yang sedang memperjuangkan hak hidup dan lingkungan mereka.
Masyarakat pun menegaskan akan menelusuri serta mengumpulkan bukti terkait pihak-pihak yang diduga berada di balik pemberitaan tersebut. Jika ditemukan adanya afiliasi dengan aktivitas PETI, warga menyatakan siap melaporkan oknum-oknum terkait ke Polda Gorontalo maupun lembaga yang menaungi mereka.
“Jangan sampai kewenangan membuat berita justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan golongan,” tegas warga Desa Teratai.
Kasus ini menjadi sorotan baru di tengah polemik PETI Pohuwato yang selama ini terus menuai protes masyarakat akibat dugaan kerusakan lingkungan, banjir, hingga sedimentasi lumpur yang mengganggu kehidupan warga sekitar. (red/)


