Pernyataan “Pantang Negosiasi dengan Penjahat” di Tambang Nanasi Picu Polemik, Warga Pohuwato Tuntut Klarifikasi

Table of Contents

 


Pohuwato, Gorontalo – Pernyataan kontroversial bertuliskan “Pantang Negosiasi dengan Penjahat” yang diduga dilontarkan seorang oknum perwira berpangkat kolonel di lokasi pertambangan emas Nanasi, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, menuai sorotan tajam dari masyarakat.

Pernyataan tersebut disebut terjadi pada Rabu (13/5/2026), saat masyarakat mendatangi pihak perusahaan untuk meminta ganti rugi atas dugaan pengrusakan camp milik warga di area pertambangan. Situasi itu kemudian memicu reaksi keras dari sejumlah tokoh masyarakat dan penambang rakyat.

Pada Jumat (15/5/2026), tokoh muda sekaligus anak cucu penambang rakyat Pohuwato, Yopi Y. Latif, menyampaikan bahwa ucapan tersebut dinilai bukan hanya memperkeruh suasana, tetapi juga dianggap melukai harga diri masyarakat lokal yang sejak lama hidup dari aktivitas pertambangan tradisional.

Menurutnya, pernyataan tersebut sangat disayangkan karena terkesan menggeneralisasi masyarakat penambang rakyat sebagai pihak yang identik dengan tindakan kriminal.

“Hal ini sangat kami sesalkan. Pernyataan tersebut bukan hanya menyakitkan, tetapi juga merendahkan leluhur kami yang sejak dulu adalah penambang. Ini bukan sekadar persoalan kata-kata, tetapi menyangkut martabat masyarakat Pohuwato,” tegas Yopi.

Ia juga menyoroti kehadiran oknum yang diduga perwira tersebut bersama pihak perusahaan tambang Merdeka Gold Mine di area pertambangan dengan mengenakan atribut perusahaan. Kondisi itu dinilai memunculkan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat.

Desa Hulawa selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah pertambangan rakyat di Kabupaten Pohuwato yang memiliki sejarah panjang dalam aktivitas tambang tradisional. Karena itu, masyarakat berharap seluruh pihak yang terlibat dapat mengedepankan pendekatan persuasif serta menghormati nilai-nilai budaya lokal.

Lebih lanjut, Yopi mewakili aspirasi masyarakat meminta pihak perusahaan segera memberikan klarifikasi resmi terkait insiden tersebut serta menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Pohuwato.

“Kami meminta perusahaan bertanggung jawab, memberikan penjelasan yang jujur, serta meminta maaf secara terbuka. Jika tidak, lebih baik meninggalkan daerah kami. Kami tidak membutuhkan pihak yang tidak menghargai nilai-nilai masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat Gorontalo, khususnya Pohuwato, sangat menjunjung tinggi etika, adab, dan penghormatan terhadap sesama, sehingga persoalan ini diharapkan dapat diselesaikan melalui dialog yang damai dan bermartabat.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak perusahaan maupun pihak terkait lainnya belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan insiden tersebut. Peristiwa ini pun masih menjadi perhatian publik di Pohuwato dan memunculkan berbagai reaksi di tengah masyarakat. (red/)

Tak-berjudul81-20250220065525