Ketua PJS Gorontalo Bongkar Dugaan “Amplop Bungkam” Terkait Pemberitaan Miras di SKY Biliard
GORONTALO – Ketua DPD Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Gorontalo, Jhojo Rumampuk, membongkar dugaan upaya pembungkaman terhadap kerja jurnalistik melalui pemberian amplop berisi uang yang diduga berkaitan dengan pemberitaan peredaran minuman keras (miras) di SKY Biliard.
Peristiwa itu disebut terjadi pada Sabtu (9/5/2026) sekitar pukul 23.00 wita, saat Jhojo berada di sebuah warung kopi di belakang Universitas Negeri Gorontalo. Ia mengaku dihubungi oleh seseorang yang dikenalnya dan diajak bertemu menggunakan mobil.
Namun, menurut pengakuannya, arah perjalanan justru berubah dan dirinya dibawa menuju kawasan Tana Teman untuk dipertemukan dengan sosok berinisial DD.
“Saya ditelepon untuk bertemu. Setelah masuk mobil, kendaraan langsung diputar menuju Tana Teman dan saya dipaksa bertemu dengan DD,” ungkap Jhojo, Senin (11/5/2026).
Usai pertemuan tersebut, Jhojo mengaku sempat diantar kembali ke lokasi awal. Akan tetapi, situasi berlanjut ketika dirinya kembali dipanggil keluar dan diarahkan menuju jalan, tempat sebuah mobil Fortuner hitam telah menunggu.
Di dalam kendaraan itu, kata Jhojo, terdapat owner SKY Biliard. Saat percakapan berlangsung, tas miliknya disebut tiba-tiba diambil lalu dimasukkan amplop putih yang diduga berisi sejumlah uang.
“Saat sedang bicara, saya diajak keluar. Di jalan sudah ada Fortuner hitam yang di dalamnya ada owner SKY Biliard. Hand bag saya kemudian dirampas dan dimasukkan amplop putih pemberian Daffa,” tegasnya.
Jhojo menilai tindakan tersebut bukan sekadar pemberian biasa, melainkan diduga kuat sebagai upaya intervensi dan “uang damai” agar pemberitaan terkait dugaan peredaran miras di SKY Biliard mereda.
Merasa profesi jurnalis dilecehkan, ia mengaku langsung mengambil sikap tegas dengan memerintahkan anggotanya mengembalikan amplop tersebut kepada pihak yang memberi.
“Saat itu juga saya perintahkan anggota untuk mengembalikan amplop tersebut kepada Daffa Doda,” katanya.
Menurut Jhojo, insiden itu justru memperkuat dugaan bahwa aktivitas penjualan miras impor di SKY Biliard memang benar terjadi dan selama ini berusaha ditutupi.
Ia juga mendesak Pemerintah Kota Gorontalo agar tidak hanya menerima klarifikasi sepihak, tetapi segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aktivitas usaha tersebut.
“Kalau pemerintah terus membiarkan hanya berdasarkan surat pernyataan, maka cita-cita menjadikan Kota Gorontalo sebagai kota religius hanya akan menjadi slogan,” pungkasnya. (red/)


