Kelangkaan Pertalite di Boalemo Picu Lonjakan Harga di Pengecer, SPBU Bongo Nol Klarifikasi Penurunan Kuota

Table of Contents

 


Boalemo, Gorontalo – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU di Provinsi Gorontalo kian menjadi sorotan publik. Kondisi ini memicu berbagai keluhan masyarakat, terutama di wilayah Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

Warga mengeluhkan lonjakan harga Pertalite di tingkat pengecer yang dinilai tidak wajar. Di Desa Bongo Nol misalnya, Pertalite dijual dengan harga mencapai Rp16 ribu per liter dan Rp25 ribu untuk ukuran 1,5 liter. Padahal sebelumnya, harga di tingkat pengecer masih berada di kisaran Rp12 ribu per liter dan Rp18 ribu untuk 1,5 liter.

Sejumlah pengecer berdalih kenaikan harga tersebut dipicu sulitnya memperoleh BBM akibat antrean panjang di SPBU. Selain itu, mereka menyebut kenaikan harga juga dilakukan secara merata oleh para pengecer lain di tengah kelangkaan pasokan.

Praktik penjualan kembali BBM bersubsidi dengan harga di atas ketentuan ini berpotensi melanggar aturan. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, pelaku penyalahgunaan pengangkutan dan/atau niaga BBM bersubsidi dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 55, dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda hingga Rp60 miliar.

Menanggapi kondisi tersebut, Pengawas SPBU Bongo Nol, Dandianto Ahmad, memberikan klarifikasi terkait berkurangnya pasokan BBM.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Dandianto Ahmad. Saya selaku pengawas SPBU Bongo Nol menyampaikan bahwa saat ini ada pengurangan kuota dari pusat, yang sebelumnya 16.000 liter per hari, sekarang menjadi 8.000 liter per hari. Kami memohon maaf kepada masyarakat dan berharap kuota ini dapat mencukupi kebutuhan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak memanfaatkan situasi kelangkaan untuk mengambil keuntungan dengan menjual kembali BBM bersubsidi dengan harga tinggi.

“Pihak SPBU sudah melakukan edukasi kepada pelanggan agar tidak bolak-balik mengisi tangki serta tidak memperjualbelikan kembali BBM subsidi. Jika di kemudian hari ada temuan pengecer menjual BBM bersubsidi dengan harga relatif tinggi, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan SPBU,” tegasnya.

Situasi ini diharapkan segera mendapat perhatian dari pihak terkait, agar distribusi BBM bersubsidi kembali normal dan tidak merugikan masyarakat kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan Pertalite.  (Red) 

Tak-berjudul81-20250220065525