“Kami Bukan Penjahat”: Anak Cucu Penambang Rakyat Pohuwato Desak Klarifikasi Dugaan Pernyataan Oknum Kolonel

Table of Contents

 


Pohuwato, Gorontalo — Suasana di kalangan penambang rakyat di Bumi Panua memanas setelah muncul dugaan pernyataan seorang oknum kolonel yang menyebut penambang rakyat sebagai “penjahat” dalam pertemuan bersama masyarakat pada Rabu (13/5/2026).

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari kelompok yang mengatasnamakan Anak Cucu Penambang Rakyat Pohuwato. Melalui pernyataan sikap yang disampaikan oleh Yopi Y. Latif, C.ILJ., mereka menilai ucapan tersebut bukan hanya menyakitkan, tetapi juga dianggap merendahkan martabat masyarakat penambang yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan rakyat.

“Sebagai anak cucu penambang, kalimat itu melukai hati kami. Orang tua kami bekerja keras demi menghidupi keluarga, namun justru diberi stigma sebagai penjahat,” tegas Yopi dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, masyarakat penambang rakyat bukanlah kelompok kriminal, melainkan warga yang sejak lama hidup dan bergantung pada sumber daya alam di wilayah tersebut. Ia menilai pelabelan sepihak tanpa ruang dialog hanya akan memperkeruh situasi di tengah masyarakat.

Dalam pernyataan itu, kelompok penambang juga mengingatkan agar pendekatan terhadap masyarakat tidak dilakukan secara represif maupun intimidatif. Mereka mengaku selama ini masih memilih jalur damai dan berharap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang adil dan terbuka.

“Kami tidak ingin benturan. Kami masih membuka ruang dialog. Tetapi masyarakat juga punya batas kesabaran,” lanjutnya.

Atas dugaan pernyataan tersebut, Anak Cucu Penambang Rakyat Pohuwato menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya meminta klarifikasi terbuka dari pihak terkait, permohonan maaf kepada penambang rakyat, penghentian stigma terhadap masyarakat, serta meminta agar tidak ada tekanan yang dinilai mengganggu ruang hidup warga.

Mereka menegaskan bahwa tanah Pohuwato bukan sekadar wilayah, melainkan sumber kehidupan dan masa depan masyarakat setempat.

“Hormati rakyat dan hentikan provokasi. Kami ingin damai, tetapi kami juga ingin dihargai sebagai manusia,” tutup pernyataan tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak maupun oknum yang dimaksud terkait dugaan pernyataan tersebut. Media masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi guna menjaga keberimbangan informasi. (red/)

Tak-berjudul81-20250220065525