Duo Naway Menggema: Alfian Raih Magister, Arman Naway Ungkap Perjalanan Haru dari Kampung hingga Puncak Akademik

Table of Contents

 


GORONTALO – Nama “Naway” kembali menggema. Bukan sekadar tentang gelar, tetapi tentang perjalanan panjang, pengorbanan, dan ikatan keluarga yang menjadi fondasi kesuksesan. Duo bersaudara, Alfian Naway dan Arman Naway, tampil sebagai simbol harmoni antara capaian akademik dan kekuatan dukungan keluarga.

Di tengah suasana haru prosesi wisuda di Jakarta, Senin (5/5/2026), Alfian Naway resmi menyandang gelar Magister Arsitektur. Namun, capaian itu bukanlah perjalanan singkat. Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan kisah panjang sejak masa kecil di Dusun Sorpite, Desa Wonggahu, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.

Sejak usia 10 tahun, Alfian telah diasuh dan disekolahkan oleh sang kakak, Arman Naway. Dari bangku sekolah menengah pertama dengan jurusan Teknik Gambar Bangunan di eks STN Telaga, hingga menapaki pendidikan Strata Satu dan Strata Dua di bidang yang sama, perjalanan itu ditempuh dengan konsistensi dan keteguhan.

Sebagai arsitek muda, Alfian dikenal memiliki karakter desain yang memadukan estetika dan fungsi. Pengalamannya bersama PT. Dewa Amka Konstruksi memperkaya kemampuannya dalam penyusunan Detail Engineering Design (DED), pemodelan 3D, hingga visualisasi menggunakan perangkat lunak seperti Lumion dan Enscape. Ia juga pernah dipercaya sebagai konsultan pengawas proyek pembangunan kantor PT Mitran Gas di Pohuwato.

Namun lebih dari sekadar prestasi akademik dan profesional, kisah ini adalah tentang nilai dan makna perjuangan. Dalam ungkapannya, Alfian mempersembahkan capaian tersebut untuk kedua orang tua, terutama almarhum sang ayah.

“Insya Allah ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, teristimewa almarhum papa. Ayah kami tidak mengenal pendidikan tinggi, hanya tamatan sekolah dasar, tetapi bagi kami beliau adalah Guru Besar moral. Beliau mengajarkan arti kebenaran, kemuliaan, dan nilai kesopanan. Bahwa pengetahuan hanyalah jalan untuk membuka jendela dunia,” ucap Alfian dengan penuh haru.

Ia juga mengingat pesan sederhana namun mendalam dari sang ayah: “Wolo u pilohutumu uwito utilomomu to momoli” — apa yang kau perbuat hari ini, itulah yang akan kau terima di kemudian hari.

Di sisi lain, Arman Naway, S.H., yang kini menjabat sebagai Ketua DPD Partai NasDem Boalemo, tak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, keberhasilan Alfian bukan hanya capaian pribadi, tetapi juga bukti bahwa investasi dalam pendidikan dan nilai keluarga akan selalu menemukan jalannya.

Lebih jauh, Arman Naway selama ini dikenal bukan hanya sebagai sosok kakak yang menyekolahkan adiknya hingga jenjang magister. Ia juga kerap menjadi penopang bagi anak-anak lain yang nyaris putus asa dalam melanjutkan pendidikan. Melalui motivasi yang konsisten, bahkan dukungan materil, Arman berupaya memastikan keberlanjutan pendidikan generasi muda di sekitarnya.

Bagi Arman, pendidikan bukan sekadar pencapaian individu, melainkan fondasi perubahan sosial. Ia meyakini bahwa semakin banyak generasi yang berpendidikan, maka mereka akan menjadi pendobrak peradaban, mampu berpikir maju, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta membawa daerah ke arah yang lebih progresif.

“Ini bukan sekadar gelar, tetapi hasil dari proses panjang. Saya berharap potensi Alfian, khususnya dalam estetika dan perencanaan, dapat diekspresikan baik di dunia usaha maupun untuk pembangunan daerah,” ujar Arman.

Kehadiran duo Naway menjadi potret nyata generasi muda Gorontalo yang tidak hanya mengejar pendidikan tinggi, tetapi juga membawa nilai, semangat, dan tanggung jawab untuk kembali membangun daerah.

Dari kampung kecil hingga panggung akademik nasional, kisah Alfian dan Arman Naway adalah pengingat bahwa keberhasilan tidak lahir dari ruang hampa, ia tumbuh dari doa, pengorbanan, dan keyakinan yang tak pernah padam. ( Red) 

Tak-berjudul81-20250220065525