Tumbilotohe, Cahaya yang Menyala Hingga Pagi: Tradisi Sakral Penutup Ramadan di Gorontalo

Table of Contents

 




GORONTALO — Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, masyarakat Gorontalo kembali menyambut tradisi penuh makna yang dikenal dengan sebutan Tumbilotohe atau malam pasang lampu. Tradisi ini menjadi penanda bahwa Ramadan segera meninggalkan umat Islam, sekaligus menghadirkan suasana hangat dan penuh cahaya di seluruh penjuru daerah.

Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo, yakni “tumbilo” yang berarti memasang dan “tohe” yang berarti lampu. Sesuai namanya, tradisi ini dilakukan dengan memasang lampu di depan rumah warga, biasanya menggunakan lampu botol berbahan bakar minyak tanah yang dinyalakan hingga pagi hari. Tradisi ini dimulai pada malam ke-27 Ramadan dan berlangsung hingga akhir bulan suci.

Untuk tahun 2026 sendiri, pelaksanaan malam pasang lampu atau Tumbilotohe digelar secara serentak pada Senin malam, 16 Maret 2026, di seluruh wilayah Provinsi Gorontalo. Momentum ini menjadi penanda kebersamaan masyarakat dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan dengan penuh kekhidmatan, serta semakin memperkuat semangat menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Sejak pertama kali dilaksanakan sekitar tahun 1525, Tumbilotohe menjadi simbol semangat dan pengingat spiritual bagi umat Islam dalam menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan. Cahaya lampu yang terpasang di sepanjang jalan dan halaman rumah menciptakan pemandangan yang indah serta mempererat kebersamaan antarwarga. Tak hanya sebagai tradisi budaya, Tumbilotohe juga menjadi wujud syukur masyarakat atas keberkahan Ramadan.

Menariknya, tradisi ini dilaksanakan secara merata di seluruh wilayah Provinsi Gorontalo, tanpa terkecuali di pesisir selatan Kabupaten Gorontalo, seperti Kecamatan Bilato, Kecamatan Biluhu, dan Kecamatan Batudaa Pantai. Selain dikenal dengan potensi wisata pantainya yang mempesona, tiga kecamatan tersebut juga konsisten menjaga tradisi leluhur ini setiap tahunnya. Warga bergotong royong menghias lingkungan dengan lampu-lampu, menjadikan malam di Gorontalo terang benderang dan penuh nuansa religius.

Tokoh Agama Kecamatan Biluhu, Ishak Popa, menyampaikan bahwa Tumbilotohe bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang kuat. Ia menegaskan bahwa malam-malam terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat istimewa, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

“Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr bahwa Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam inilah Al-Qur’an diturunkan. Oleh karena itu, malam-malam terakhir Ramadan harus kita isi dengan ibadah, doa, dan zikir,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam Surah Ad-Dukhan disebutkan bahwa pada malam yang penuh berkah tersebut ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah. Menurutnya, tradisi Tumbilotohe menjadi simbol pengharapan agar cahaya iman terus menyinari kehidupan masyarakat, sebagaimana lampu-lampu yang menerangi jalanan Gorontalo.

Dengan perpaduan antara nilai budaya dan spiritual, Tumbilotohe tidak hanya memperindah malam-malam terakhir Ramadan, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat Gorontalo sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan religiusitas. Hingga kini, cahaya lampu Tumbilotohe tetap menjadi simbol kebersamaan, harapan, dan rasa syukur yang menyinari Bumi Serambi Madinah.


        ( Rey  ) 

Tak-berjudul81-20250220065525