Setahun Misteri Kematian Juve di Gentuma Raya, Keluarga Desak Transparansi dan Kepastian Hukum
Gorontalo Utara – Misteri kematian Julia Sinta Sangala alias Juve yang ditemukan tak bernyawa di semak belukar wilayah Gentuma Raya pada 2 Januari 2025 hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Meski telah memasuki tahap penyidikan, aparat penegak hukum belum juga menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.
Kondisi ini memicu sorotan tajam dari keluarga korban melalui kuasa hukumnya, Tutun Suaib, SH., CPLC. Ia menilai penanganan perkara tersebut mencerminkan lemahnya kepastian hukum di Indonesia, khususnya dalam kasus-kasus yang menyita perhatian publik.
“Dalam negara hukum, keadilan tidak boleh berhenti pada norma, tetapi harus hadir secara nyata melalui tindakan yang transparan dan akuntabel,” tegas Tutun, Rabu (18/3/2026).
Menurutnya, dalam sistem hukum pidana, proses penyidikan seharusnya telah didasarkan pada alat bukti permulaan yang cukup serta indikasi kuat adanya tindak pidana. Namun, fakta bahwa hingga kini belum ada kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab justru menimbulkan kejanggalan.
Ia juga menyoroti minimnya keterbukaan informasi kepada publik dan keluarga korban terkait perkembangan kasus. Tidak adanya penjelasan mengenai konstruksi perkara, jumlah saksi yang diperiksa, hingga arah penyidikan, dinilai memperkuat kesan bahwa proses hukum berjalan tanpa arah yang pasti.
“Jika perkara sudah naik ke tahap penyidikan, seharusnya ada progres signifikan. Bukan justru stagnan tanpa kepastian,” ujarnya.
Lebih lanjut, dugaan pergantian pejabat di lingkungan Polres Gorontalo Utara, baik Kapolres maupun Kasatreskrim, yang tidak diiringi dengan kesinambungan penanganan perkara, turut memperkuat kecurigaan publik akan adanya hambatan dalam pengungkapan kasus.
Dalam perspektif sosial, lambannya penanganan perkara ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius di tengah masyarakat. Ketidakjelasan hukum dapat memicu menurunnya kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum, sekaligus membuka ruang bagi sikap permisif terhadap tindak kejahatan.
Keluarga korban pun mendesak agar aparat penegak hukum segera bertindak lebih aktif dan progresif. Mereka menuntut transparansi menyeluruh terkait perkembangan penyidikan, termasuk siapa saja saksi yang telah diperiksa dan sejauh mana proses hukum berjalan.
“Waktu adalah ukuran kredibilitas penegakan hukum. Semakin lama dibiarkan, semakin besar kecurigaan publik akan adanya kepentingan tertentu,” tambah Tutun.
Kasus kematian Juve kini menjadi ujian serius bagi integritas aparat penegak hukum di Gorontalo Utara. Publik menanti langkah nyata untuk mengungkap kebenaran dan menghadirkan keadilan, agar peristiwa ini tidak berakhir sebagai misteri tanpa penyelesaian. (red)


