RSUD Iwan Bokings Buka Suara: Bantah Ketiadaan Dokter, Sebut Penanganan Pasien Sudah Optimal
Boalemo – Manajemen RSUD Dr. Ir. Iwan Bokings akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait polemik pelayanan medis yang ramai diperbincangkan publik usai meninggalnya pasien berinisial AG (22). Klarifikasi ini disampaikan langsung oleh Direktur RSUD, dr. Hendra Sp.Rad, K(RI), MM, saat dihubungi awak media melalui WhatsApp pada Jumat (27/3/2026) malam.
Direktur RSUD menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga almarhum, sekaligus menegaskan bahwa pihak rumah sakit telah memberikan pelayanan maksimal sejak pasien pertama kali masuk hingga diantar ke rumah duka.
“Kami turut berbelasungkawa atas meninggalnya pasien ini. Layanan sudah optimal sebisa yang dapat kami lakukan sejak masuk UGD sampai diantar ke rumah duka,” ujarnya.
Terkait diagnosis, pihak rumah sakit menyatakan bahwa kondisi pasien telah ditangani sesuai prosedur medis. Bahkan, pasien disebut sudah direncanakan untuk dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap, yakni RS Aloei Saboe.
“Diagnosa sudah jelas dan pasien sudah direncanakan untuk dirujuk ke RS Aloei Saboe. Namun kondisinya terus mengalami penurunan hingga akhirnya meninggal dunia,” jelasnya.
Menanggapi tudingan keluarga terkait ketiadaan dokter saat kondisi kritis, pihak RSUD dengan tegas membantah hal tersebut.
“Tidak benar, dokternya ada dan standby di rumah sakit,” tegasnya.
Direktur juga menjelaskan bahwa proses rujukan pasien BPJS tidak dapat dilakukan secara instan. Pihak rumah sakit harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan agar dapat menerima pasien dengan kesiapan fasilitas yang memadai.
“Pasien BPJS-nya aktif. Namun sebelum merujuk, kami harus mengabari rumah sakit rujukan agar mereka bisa bersiap. Sambil menunggu konfirmasi dari RS Aloei Saboe, kondisi pasien terus menurun,” tambahnya.
Terkait perbedaan persepsi diagnosis yang berkembang di masyarakat, pihak RSUD menegaskan bahwa penentuan penyebab kematian secara pasti memerlukan proses medis lanjutan.
“Untuk menentukan penyebab kematian secara pasti harus dilakukan otopsi. Namun sesuai diagnosis tim dokter dan perawat, pasien ini dicurigai mengalami gagal jantung akut,” ungkapnya.
Sebelumnya, kasus ini mencuat setelah pihak keluarga pasien menyampaikan kekecewaan terhadap pelayanan RSUD Iwan Bokings, terutama terkait dugaan lambatnya penanganan dan tidak adanya dokter saat pasien dalam kondisi kritis.
Perbedaan keterangan antara pihak keluarga dan manajemen rumah sakit kini menjadi perhatian publik. Diharapkan, instansi terkait dapat melakukan penelusuran lebih lanjut guna memastikan transparansi dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di daerah.
( Rey )


