"Baku Panas" di Jalur Trans Sulawesi Berujung Maut: Dua Kakak Beradik Tewas, Sopir Diduga Emosi di Balik Kemudi
Gorontalo – Tragedi kecelakaan maut di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, menguak sisi kelam perilaku berkendara di jalur Trans Sulawesi. Insiden yang menewaskan dua kakak beradik asal Gorontalo ini diduga kuat dipicu aksi “baku panas” atau saling kejar antar sopir mobil penumpang dari perusahaan otobus (PO) berbeda.
Peristiwa nahas tersebut terjadi saat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi. Berdasarkan keterangan saksi selamat, situasi di dalam mobil awalnya berlangsung normal. Namun, suasana berubah tegang ketika sopir terlibat persaingan di jalan dengan kendaraan lain.
Keluarga korban, Reza Mustaki (32), mengungkapkan kronologi kejadian yang dihimpun dari saksi kunci. Ia menyebut adanya aksi saling kejar yang berujung pada keputusan berbahaya di tengah kondisi lalu lintas padat.
“Dalam perjalanan terjadi baku panas antara sopir, hingga terjadi kejar-mengejar,” ujar Reza, Rabu (18/3/2026).
Seorang penumpang yang duduk di kursi depan bahkan sempat memperingatkan sopir untuk mengurangi kecepatan. Ia mengingatkan bahwa ada penumpang lain yang sedang beristirahat di dalam kendaraan. Namun, peringatan tersebut tidak diindahkan karena situasi di jalan sudah memanas.
Ketegangan mencapai puncaknya saat sopir mencoba menyalip kendaraan di depannya dari sisi kanan. Diduga, kendaraan yang hendak disalip tidak memberikan ruang, sehingga mempersempit jalur. Di saat bersamaan, muncul sepeda motor dari arah berlawanan.
Dalam kondisi panik, sopir membanting setir secara ekstrem untuk menghindari tabrakan langsung. Namun, manuver tersebut justru membuat kendaraan kehilangan kendali, keluar jalur, terguling, dan menghantam pohon serta bangunan rumah makan dengan keras.
Akibat benturan hebat itu, dua kakak beradik meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara itu, sejumlah penumpang lain, termasuk sopir yang diketahui bernama Ismail Zees, mengalami luka serius.
Pasca kejadian, pihak PO Garuda menunjukkan itikad tanggung jawab dengan mendatangi rumah duka setelah jenazah korban tiba di Gorontalo. Perwakilan perusahaan, Geovano, turut hadir dalam prosesi takziah hingga pemakaman korban.
Di sisi lain, isu yang sempat beredar terkait dugaan kericuhan di kantor PO Garuda dibantah pihak perusahaan. Aktivitas di kantor yang berlokasi di Jalan Prof. John Ario Katili dilaporkan tetap berjalan normal tanpa adanya aksi anarkis dari keluarga korban.
Tragedi ini kembali menjadi peringatan keras akan pentingnya keselamatan di jalan raya, terutama bagi pengemudi angkutan umum. Emosi yang tidak terkendali di balik kemudi dapat berujung fatal dan merenggut nyawa penumpang yang tidak bersalah. (red)


