Laboratorium Rp1 Miliar Tak Bisa Dipakai, SMP 10 dan 12 Paguyaman Menyusul SMP 3 Mananggu: Ada Apa dengan Kualitas Proyek Pendidikan Boalemo?
Boalemo — Persoalan serius kembali mencuat dari sektor pendidikan di Kabupaten Boalemo. Setelah sebelumnya kondisi bangunan SMP Negeri 3 Mananggu menuai sorotan, kini dua sekolah lain menyusul dengan masalah serupa. Bangunan laboratorium komputer di SMP Negeri 10 dan SMP Negeri 12 Paguyaman dilaporkan rusak dan tidak layak dimanfaatkan oleh siswa, meski belum lama diserahkan.
Ironisnya, bangunan yang seharusnya menjadi tulang punggung pembelajaran berbasis teknologi justru menjadi monumen kegagalan perencanaan dan pelaksanaan proyek. Kerusakan pada laboratorium komputer ini membuat fasilitas yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah tak dapat digunakan sebagaimana mestinya, sementara siswa kembali menjadi pihak yang paling dirugikan.
Temuan ini memperpanjang daftar persoalan infrastruktur pendidikan di Boalemo. Fakta bahwa bangunan relatif baru sudah mengalami kerusakan menimbulkan tanda tanya besar terkait kualitas pekerjaan dan pengawasan proyek, terutama karena sumber dananya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2023 dengan nilai anggaran lebih dari Rp1 miliar.
Merespons laporan tersebut, Bupati Boalemo, Drs. H. Rum Pagau, bergerak cepat. Ia langsung memanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boalemo serta memerintahkan agar pihak kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut segera dipanggil untuk dimintai pertanggungjawaban.
“Bangunan ini dibuat untuk kepentingan pendidikan anak-anak, bukan untuk dikerjakan asal-asalan. Kontraktor harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang tidak sesuai,” tegas Rum Pagau kepada awak media, Selasa (06/01).
Menurut Bupati, kerusakan laboratorium komputer ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bentuk kerugian nyata bagi dunia pendidikan. Fasilitas yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran justru mangkrak dan tak bisa digunakan.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak akan mentolerir pekerjaan yang mengabaikan spesifikasi teknis dan kualitas bangunan. Kasus ini, kata dia, harus menjadi peringatan keras bagi seluruh kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah, khususnya di sektor pendidikan.
“Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Ini harus menjadi pelajaran bagi kontraktor lainnya agar bekerja sesuai aturan dan spesifikasi,” tandasnya.
Diketahui, proyek pembangunan laboratorium komputer tersebut dikerjakan dalam rentang waktu Agustus hingga Desember 2023 dan diserahkan kepada pihak sekolah pada tahun 2024. Namun dalam waktu singkat, bangunan sudah menunjukkan kerusakan yang menghambat proses belajar mengajar.
Sorotan tajam juga datang dari DPRD Boalemo. Wakil Ketua Komisi III sekaligus Ketua Fraksi NasDem, Arman Naway, S.H., secara tegas mengecam lemahnya pengawasan terhadap proyek tersebut.
“Saya berpesan kepada OPD maupun KPA agar benar-benar memastikan setiap bangunan memperhatikan konstruksi yang layak sebagaimana perencanaan yang sudah ditetapkan. Saya juga mengecam kinerja pihak ketiga yang tidak memperhitungkan kualitas pekerjaan,” tegas Arman.
Kasus ini menambah panjang daftar pekerjaan rumah pemerintah daerah dalam memastikan anggaran pendidikan benar-benar berbanding lurus dengan kualitas bangunan. Jika tidak ada evaluasi menyeluruh dan penindakan tegas, kegagalan serupa dikhawatirkan akan terus berulang, dengan siswa kembali menjadi korban utama.(*)


