PETI di Bulangita: Anak Cucu Penambang Pohuwato Tantang Kapolres dan Bupati Pohuwato Bertindak

Table of Contents


POHUWATO – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang diduga terang-terangan menggunakan alat berat ekskavator di Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, kembali memantik kemarahan publik. Kali ini, suara keras datang dari anak cucu penambang Pohuwato yang menilai aparat penegak hukum dan pemerintah daerah seolah memilih diam di tengah kerusakan lingkungan yang kian parah.

Yopi Y. Latif, yang mengaku sebagai bagian dari anak cucu penambang Pohuwato, secara terbuka mendesak Kapolres Pohuwato dan Bupati Pohuwato agar tidak menutup mata terhadap praktik tambang emas ilegal yang berlangsung di wilayah yang notabene berada di jantung Ibu Kota Kabupaten Pohuwato.

Menurut Yopi, keberadaan PETI dengan alat berat di Bulangita bukan hanya kejahatan lingkungan, tetapi juga tamparan keras terhadap wibawa hukum dan citra Marisa sebagai pusat pemerintahan daerah.

“PETI di Bulangita ini bukan aktivitas sembunyi-sembunyi. Ekskavator bekerja terang-terangan. Kerusakan lingkungan makin parah dan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Yopi, Selasa (31/12/2025).

Ia menegaskan, aktivitas pertambangan ilegal tersebut diduga kuat menjadi pemicu banjir lumpur yang melanda Desa Bulangita sebagai wilayah terdampak langsung, serta merembet ke Desa Teratai, Desa Palopo, hingga Desa Pohuwato Timur. Banjir lumpur itu, kata Yopi, telah menimbulkan kerugian besar bagi warga, baik secara ekonomi maupun terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.

Yopi menilai, terus beroperasinya PETI di Bulangita merupakan cerminan lemahnya penegakan hukum. Ia mempertanyakan keseriusan aparat kepolisian dalam menindak praktik ilegal yang sudah merusak alam dan merugikan masyarakat luas.

“Kalau penegakan hukum tegas, PETI tidak mungkin terus berjalan. Ini justru menimbulkan pertanyaan besar: ada apa di balik pembiaran ini?” tegasnya.

Lebih jauh, Yopi mendesak Kapolres Pohuwato agar segera mengambil langkah nyata, bukan sekadar membiarkan aktivitas ilegal berlangsung tanpa sanksi. Ia juga menuntut agar para pelaku PETI diminta bertanggung jawab penuh atas kerusakan lingkungan dan penderitaan masyarakat yang ditimbulkan.

Nada kritik Yopi bahkan mengeras. Ia secara terbuka meminta Kapolres Pohuwato untuk angkat kaki dari Bumi Panua jika tidak mampu atau tidak berani menegakkan hukum.

“Sebagai anak cucu penambang Pohuwato, saya malu melihat daerah kami hancur oleh tambang ilegal. Jika Kapolres tidak becus menegakkan hukum, lebih baik angkat kaki dari Pohuwato,” tandasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Kapolres Pohuwato maupun Pemerintah Kabupaten Pohuwato belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan dan kritik keras yang dilayangkan tersebut. Pembiaran ini justru semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa praktik PETI di Bulangita berjalan di bawah bayang-bayang lemahnya pengawasan dan keberanian penegakan hukum.(*) 

Tak-berjudul81-20250220065525