Ketika Reformasi Dikhianati atas Nama Kepahlawanan: Generasi Muda Gorontalo Tegas Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Gorontalo — Aliansi Mahasiswa dan Pelajar Kawasan Paguyaman Raya (AMPKPRG) menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi Generasi Muda: Layakkah Soeharto Disebut Pahlawan?” di Warkop Mongopi, Senin malam (10/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan narasumber lintas organisasi, di antaranya Iksan A. Karim (GMNI), Aries Setiawan (BADKO HMI Sulut-Go), Fian Hamzah (Ruang Anak Muda), Nurhikmah Biga (Gusdurian), dan Windy Olivia (PKC PMII Gorontalo).
Ketua Umum AMPKPRG, Raman Tamu, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar debat sejarah, tetapi ujian moral generasi muda. “Jika kita diam, maka sejarah akan ditulis oleh mereka yang berkuasa, bukan oleh mereka yang berjuang,” ujarnya tegas.
Pandangan keras datang dari Iksan A. Karim, yang menyebut upaya menobatkan Soeharto sebagai pahlawan nasional sebagai bentuk penghinaan terhadap bangsa. “Soeharto adalah pelaku KKN, penjahat kemanusiaan, dan tidak pantas disebut pahlawan,” serunya lantang.
Sementara Aries Setiawan menilai gelar pahlawan harus diuji secara moral dan konstitusional. “Kalau saya jadi presiden, saya pun bisa memperkaya keluarga saya atas nama pembangunan, tapi apakah itu pantas disebut jasa?” sindirnya.
Nada serupa disampaikan Fian Hamzah, Founder Ruang Anak Muda. Ia menolak keras upaya pemutihan sejarah melalui pemberian gelar tersebut. “Kita tidak bisa memaafkan pelanggaran terhadap kemanusiaan hanya karena alasan pembangunan. Itu bukan kepahlawanan, tapi kejahatan yang dibungkus rapi oleh kekuasaan,” tegasnya. Ia menambahkan, “Sebagai pemuda, kita punya tanggung jawab menjaga ingatan sejarah agar tragedi masa lalu tidak terulang.”
Nurhikmah Biga dari Gusdurian Gorontalo menilai, pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto merupakan bentuk pengkhianatan terhadap reformasi. “Negara sedang mencabut ingatan kolektif rakyat tentang kelamnya 32 tahun rezim Soeharto,” ujarnya. Sementara Windy Olivia menegaskan bahwa penghargaan semacam itu tidak boleh dijadikan alat kompromi politik.
Diskusi yang berlangsung dua jam itu ditutup dengan satu kesimpulan bulat: generasi muda Gorontalo menolak tegas penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional, karena bagi mereka, langkah itu adalah pengkhianatan terhadap reformasi dan pemutihan terhadap pelanggaran kemanusiaan. (Rey)


