Awas Bayang-Bayang Deepfake: AKPERSI Suarakan Alarm Nasional: Refsi Rhey Musa, Imran Uno, dan Rino Triyono Ingatkan Jurnalis soal Ancaman Manipulasi Digital

Table of Contents

 



Gorontalo — Suasana webinar nasional yang digelar Mimbar Hukum Indonesia mendadak berubah menjadi ruang peringatan serius ketika para tokoh pers dan ahli hukum membedah ancaman kegelapan baru di dunia digital: AI deepfake, manipulasi citra, dan lemahnya regulasi di Indonesia. Melalui Zoom Meeting pada Sabtu, (15/11/2025), bertema “PEREMPUAN dan RUANG DIGITAL: ANCAMAN AI DEEPFAKE, MANIPULASI CITRA, dan KESENJANGAN REGULASI di INDONESIA”, sederet narasumber kredibel hadir untuk mengupas dampak dan potensi bahaya dari teknologi manipulatif yang kini makin tak terbendung.

Webinar ini menghadirkan:

Devi Yanti, S.H., M.H. – Praktisi hukum & senior lawyer Devi Yanti, Emil Widjojo Wardhana & Rekan

Rino Triyono, S.Kom., S.H., C.IJ., C.BJ., C.EJ., C.F.L.E. – Ketua Umum DPP AKPERSI

Jihan Faradila Saharani, S.H. – Ketua Pusat Kajian Perempuan Indonesia (PKPI)

Dipandu oleh moderator Dedi Purwanto, S.H., M.H. – Dosen STKIP Taman Siswa Bima.

Di balik diskusi mendalam itu, tiga tokoh penting Pers Indonesia, Ketum DPP AKPERSI, Ketua DPD AKPERSI Gorontalo, dan Ketua DPC AKPERSI Gorontalo, muncul sebagai suara paling nyaring menyerukan kewaspadaan dan integritas.

Peringatan Tajam dari Ketua Umum DPP AKPERSI, Rino Triyono

Dengan nada tegas, Rino Triyono mengingatkan bahwa jurnalis berada di garis tembak ancaman deepfake.

“Satu video palsu bisa menghancurkan reputasi seseorang, menggiring opini publik, bahkan memicu kekacauan sosial. Jurnalis harus waspada, harus punya mekanisme verifikasi berlapis. Jangan pernah percaya pada apa yang terlihat sebelum dibuktikan,” ujarnya.

Rino menegaskan bahwa insan pers wajib menguatkan literasi digital agar tidak hanya menjadi korban, tetapi mampu menjadi benteng bagi masyarakat.

Imran Uno: ‘Badai Digital Tak Boleh Menggoyahkan Etika Jurnalis’

Ketua DPD AKPERSI Provinsi Gorontalo, Imran Uno, turut memberi peringatan keras yang menggema untuk seluruh jurnalis di Gorontalo.

“Dalam situasi di mana manipulasi digital semakin mudah dilakukan, hanya satu hal yang tidak boleh goyah: kode etik jurnalistik. Jurnalis Gorontalo harus tetap teguh, tetap bersih, tetap taat pada etika. Badai teknologi boleh mengamuk, tetapi integritas tidak boleh runtuh,” tegas Imran.

Ia menambahkan bahwa deepfake bukan hanya ancaman teknis, tetapi ujian moral yang benar-benar mengukur keteguhan insan pers.

Apresiasi dan Seruan Moral dari Ketua DPC AKPERSI Gorontalo, Refsi Rhey Musa

Refsi Rhey Musa, Ketua DPC AKPERSI Kabupaten Gorontalo, menyampaikan apresiasi mendalam atas penyelenggaraan webinar tersebut.

“Kegiatan ini bukan sekadar seminar, tetapi alarm bagi kita semua. Deepfake itu ancaman yang dapat menjebak siapa saja, terutama perempuan dan jurnalis. Tujuan webinar ini sangat jelas, meningkatkan kesadaran, memperkuat literasi digital, dan melindungi publik dari manipulasi teknologi yang semakin canggih,” ungkap Rey.

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan mendorong jurnalis daerah untuk lebih aktif mengikuti edukasi digital demi menjaga profesionalitas di lapangan.

Pesan Penutup: Kebenaran Memerlukan Penjaga

Dengan bersatunya suara Ketum DPP, Ketua DPD, dan Ketua DPC AKPERSI, webinar ini menjadi momentum penting dalam perlawanan terhadap ancaman digital.

Para pemimpin pers ini menekankan satu hal:

di era teknologi serba instan, kebenaran tidak hanya harus dicari, tetapi harus diperjuangkan dan dilindungi.(*) 

Tak-berjudul81-20250220065525