Evaluasi Program Upland 2026, Kabupaten Gorontalo Siapkan Hilirisasi Pisang Gapi Bernilai Ekonomi
Table of Contents
GORONTALO – Pemerintah Kabupaten Gorontalo terus mendorong keberlanjutan program pengembangan pertanian berbasis potensi lokal melalui evaluasi capaian pelaksanaan Program Upland Tahun 2026. Salah satu fokus utama program ini adalah pengembangan budidaya pisang gapi yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus membuka peluang usaha pengolahan hasil pertanian.
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Gorontalo melalui Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSPP) tersebut dibuka langsung oleh Bupati Gorontalo, H. Sofyan Puhi, S.T., di Ruang Diyanomo 3, Hotel Aston, Kota Gorontalo, Jumat (16/10/2026).
Rapat evaluasi yang berlangsung selama dua hari, mulai 16 hingga 17 Oktober 2026, diikuti 33 peserta yang terdiri atas unsur kepala desa, pengurus kelompok wanita tani, serta pengurus koperasi. Turut hadir Wakil Bupati Gorontalo Tonny S. Yunus, Sekretaris Daerah Sugondo Makmur, S.Pd., M.H., Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Dr. Victor Asiku, S.STP., M.Si., serta Staf Ahli Bupati Prof. Mohamad Iqbal Bahoea.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Gorontalo, Dr. Victor Asiku, menjelaskan bahwa Program Upland telah dilaksanakan sejak 2021 hingga 2026 dengan dukungan anggaran sekitar Rp16 miliar. Dana tersebut telah direalisasikan untuk berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan sektor pertanian di wilayah sasaran.
Menurut Victor, terdapat tiga desa yang menjadi lokasi pelaksanaan program, yakni Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga; Desa Toyidito, Kecamatan Pulubala; dan Desa Puncak. Ketiga wilayah tersebut difokuskan pada pengembangan dan budidaya pisang gapi dengan luas lahan yang telah menjadi bagian dari program mencapai kurang lebih 80 hektare.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti setelah tahapan evaluasi selesai. Keberlanjutan program perlu diwujudkan melalui pengembangan komoditas dan peningkatan nilai tambah hasil pertanian, sehingga petani tidak hanya menjual pisang dalam bentuk bahan mentah.
“Harapannya, akan ada produk olahan, seperti keripik atau produk lainnya, yang bisa memberikan nilai tambah bagi komoditas pisang gapi,” ungkap Victor.
Menurutnya, pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, memperluas pemasaran, serta memperkuat manfaat program bagi kelompok tani di desa sasaran.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Kabupaten Gorontalo, Prof. Mohamad Iqbal Bahoea, menjelaskan bahwa Program Upland merupakan program pengembangan budidaya dan agribisnis yang berorientasi pada kawasan dataran tinggi.
Ia menilai pelaksanaan program tersebut perlu dipahami sebagai rangkaian usaha pertanian yang terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Tahap hulu mencakup penyediaan bibit dan budidaya tanaman, sedangkan sektor hilir meliputi pengolahan pascapanen hingga pemasaran produk.
“Program ini merupakan satu manajemen usaha tani yang merangkaikan agribisnis dari sistem hulu ke hilir, termasuk agroindustri dan sistem penunjang,” jelas Iqbal.
Ia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kegiatan penanaman, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan usaha, mengembangkan produk olahan, dan membangun akses pemasaran. Dalam hal ini, penyuluh pertanian memiliki peran penting sebagai tenaga pendukung agar rangkaian agribisnis dapat berjalan secara berkesinambungan.
Iqbal juga menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan motivasi petani dan kelompok tani dalam mempertahankan hasil program, baik dari aspek budidaya, pengolahan hasil panen, maupun pemasaran.
Menurutnya, kemandirian petani dan kelompok tani harus terus diperkuat agar program yang telah dilaksanakan mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, lanjutnya, diharapkan terus menghadirkan program pendukung yang dapat memperkuat kapasitas petani. Pengembangan Program Upland di wilayah lain, khususnya kawasan dataran tinggi yang potensial, juga diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas pembangunan pertanian daerah.
Melalui rapat evaluasi ini, capaian pelaksanaan Program Upland sejak 2021 hingga 2026 diharapkan menjadi landasan untuk memperkuat keberlanjutan budidaya pisang gapi, mendorong hilirisasi produk pertanian, serta meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat di Kabupaten Gorontalo. (red/)

