,

Binsar Siadari : Jangan Cuma Teriak Soal Harga Beras Naik, Teriakkan Juga Pupuk Bersubsidi Yang Jauh Dari Harga HET !

RADAR NUSANTARA NEWS
04 Maret 2024, 18.29 WIB Last Updated 2024-03-04T11:29:48Z
iklan


RNN.COM, MUSI RAWAS - SUMSEL |

Apa yang dikatakan oleh Binsar Siadari Ketua DPW Lembaga Garuda Sakti Republik Indonesia (LGS-RI) Sumatera Selatan, dalam menyikapi mahalnya harga beras akhir-akhir ini, barangkali ada juga benarnya.

Ia menyebutkan, jika dibandingkan antara harga pupuk bersubsidi yang di terima oleh petani khususnya di wilayah Kabupaten Musi Rawas, jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET) dengan harga beras, mungkin masih jauh dari kata sepadan. Meski saat ini diakui banyak yang mengeluhkan harga beras mencapai Rp 14 -15 ribu perkilogramnya.

Mungkin hal itu cukup beralasan, seperti yang telah banyak diberitakan oleh Media sebelumnya. Terutama di sebagian wilayah Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas. Harga pupuk bersubsidi jenis Urea yang HET resmi dari pemerintah adalah Rp 2.250 perkilogramnya atau Rp 112.500 per zak 50 kg. Tapi anehnya justru pihak Kelompok Tani (Poktan) harus menebus pupuk bersubsidi tersebut dengan harga Rp 160 ribu per zak. Sedangkan Pupuk Bersubsidi jenis Ponska, sesuai HET resmi adalah Rp 2.500 perkilogramnya, atau Rp 115.000 per zak 50 kg, tapi faktanya justru dihargai Rp 175 ribu per zak 50 kg. Sungguh kenaikan harga yang cukup fantastis, yang mencapai lebih dari separuh dari HET atau harga resminya. Lalu kemana pengawasan, atau dimana penindakan nyata terhadap mereka yang bermain-main dengan pupuk bersubsidi tersebut, entahlah !

  • "Sebagus apapun program dari pemerintah pusat, apalagi mau bermimpi akan swasembada pangan, kalau tidak ada kontrol ketat sampai ke bawah, mulai dari harga dan ketersediaan pupuk, itu semua akan omong kosong. Sebab kalau harga pupuk masih seperti ini, petani akan terus kesulitan, karena biaya kelola dengan nilai hasil yang didapat, tidaklah akan sebanding. Kalau begini, kapan petani mau sejahtera,"tegas Binsar seperti pesimis.
  • "Kalau menurut saya, bukan berarti saya sok pahlawan, biarlah harga beras naik. Soalnya gaji PNS naik, gaji UMR juga naik, pupuk subsidi jauh dari harga HET, masak beras petani harganya tidak boleh naik. Katanya kan, Petani adalah Pahlawan Pangan,"ujar Ketua DPW LGS-RI Sum-sel tersebut, diakhir perbincangan. (TIM)


Iklan